Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menegaskan posisi Indonesia terkait polemik ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ingin mengakuisisi Greenland. Sugiono memastikan Indonesia tetap memegang prinsip tidak memihak (non-aligned) di tengah ketegangan hubungan transatlantik tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Sugiono merespons situasi dinamis global saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto di Swiss.
“Intinya kita adalah, kita ada dalam posisi non-aligned,” ujar Sugiono dalam keterangan pers di Bad Ragaz, Swiss, Sabtu (24/1).
Prioritas Kepentingan Nasional
Sugiono menyadari bahwa ambisi Trump terhadap wilayah otonomi Denmark tersebut memicu dinamika baru dalam politik internasional. Namun, ia menekankan bahwa setiap langkah diplomasi Indonesia akan selalu berpatokan pada kepentingan nasional.
“Kita sadar bahwa dunia sekarang sangat dinamis situasinya. Namun kita juga harus ingat bahwa ada kepentingan nasional yang harus kita jaga,” tegasnya.
Mengutip visi Presiden Prabowo Subianto, Sugiono mengingatkan bahwa stabilitas dan perdamaian adalah prasyarat mutlak bagi kemakmuran global. Oleh karena itu, Indonesia terus mendorong terciptanya stabilitas dunia.
Konteks Ambisi Trump
Sebagai informasi, Donald Trump kembali menyuarakan keinginannya menguasai Greenland dengan alasan membendung ancaman keamanan dari Rusia dan China di kawasan Arktik.
Dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) Davos, Rabu (21/1), Trump mengklaim telah memiliki “kerangka kerja” untuk kesepakatan masa depan. Meski berjanji tidak akan menggunakan kekuatan militer, Trump bersikeras bahwa hanya AS yang mampu mengamankan pulau strategis tersebut.
“Banyak orang mengira saya akan menggunakan kekuatan, tetapi saya tidak perlu dan tidak akan melakukannya,” ucap Trump.










