Jakarta, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono angkat bicara merespons maraknya kampanye hitam (black campaign) yang kerap menyerang industri kelapa sawit Indonesia dengan dalih perusakan lingkungan. Ia menegaskan bahwa narasi negatif tersebut murni merupakan bentuk persaingan dagang global, khususnya dari negara-negara Eropa.
Pernyataan tegas ini disampaikan Sudaryono melalui akun Instagram pribadinya, di mana ia mengajak masyarakat untuk membedah fakta ekologis dan ekonomis di balik komoditas sawit.
“Eropa tidak punya sawit. Mereka tanam kanola dan bunga matahari. Wajar mereka terusik melihat efisiensi lahan kita. Ini murni persaingan dagang biasa,” tegas Sudaryono dalam unggahannya.
Adu Efisiensi Lahan: Sawit vs Bunga Matahari
Untuk mematahkan tudingan kerusakan lingkungan, Wamentan membeberkan perbandingan matematis terkait efisiensi lahan. Menurutnya, secara ekologi, kelapa sawit jauh lebih unggul dan efisien dibandingkan komoditas minyak nabati andalan Eropa.
“Satu hektar kebun sawit menghasilkan minyak setara 15 hektar kebun bunga matahari. Secara ekologi, sawit jauh lebih efisien,” jelasnya.
Senjata Biodiesel: Petani Untung, Impor Solar Berhenti
Selain menepis isu lingkungan, Sudaryono juga menyoroti strategi hilirisasi dan ketahanan energi nasional melalui program pencampuran bahan bakar nabati (biodiesel), seperti B50. Ia memproyeksikan skenario di mana bauran solar bumi dan minyak sawit diterapkan secara masif di dalam negeri.
Untuk merealisasikan bauran tersebut (misalnya 60 persen solar bumi dan 40 persen sawit), Indonesia diproyeksikan akan menyerap hingga 5,3 juta ton Crude Palm Oil (CPO) lokal khusus untuk kebutuhan bahan bakar.
Langkah ini diyakini akan menciptakan efek domino yang sangat positif bagi perekonomian domestik. “Dampaknya? Ekspor berkurang. Pasokan global menipis. Harga sawit otomatis melambung. Petani untung besar. Impor solar berhenti total. Negara makin mandiri urusan energi,” papar Sudaryono merinci proyeksi ekonomi tersebut.
Fokus Produktivitas, Bukan Ekstensifikasi Lahan
Menjawab kekhawatiran terkait deforestasi atau pembabatan hutan untuk perluasan lahan baru, Wamentan memastikan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah intensifikasi.
Pemerintah tidak berencana meraba-raba atau asal menebang pohon untuk memperluas perkebunan. Strategi utama yang didorong adalah meningkatkan volume atau produktivitas panen kelapa sawit per hektar lahan yang sudah ada.
“Mari berpihak pada petani sendiri. Berdiri tegak membela kekayaan bumi pertiwi,” tutup Sudaryono.










