Isi Pertemuan Prabowo dengan Eks Dirut KAI Ignasius Jonan

Eks Dirut KAI Ignasius Jonan/Setneg

Mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan mantan Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, membeberkan isi pertemuannya yang berlangsung sekitar dua jam dengan Presiden Prabowo Subianto, Senin (3/11/2025).

Pertemuan tersebut berfokus pada diskusi program-program nasional dan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Jonan menegaskan bahwa kehadirannya adalah untuk sharing (berbagi) dan berdiskusi sebagai rakyat atau warga negara mengenai program-program yang dijalankan oleh Presiden Prabowo.

“Kami sebenarnya memang juga minta waktu untuk sharing lah gitu sebagai rakyat, sebagai warga negara itu berdiskusi tentang program-program yang dijalankan oleh beliau selama ini ya,” ujar Jonan.

Presiden, menurut Jonan, berkenan untuk mendengarkan dan menerima beberapa masukan yang disampaikan.

Fokus pada BUMN dan Program Kerakyatan

Ada beberapa poin utama yang menjadi fokus diskusi Jonan dan Presiden:

1. Diplomasi dan Peran Luar Negeri: Dibahas mengenai peran serta Presiden yang dianggap sangat bagus dan aktif dalam diplomasi luar negeri.

2. Pengembangan BUMN: Diskusi mencakup pengembangan BUMN dan partisipasi BUMN demi bangsa dan negara.

3. Program Kerakyatan dan Keadilan Sosial: Jonan menyoroti program-program yang bersifat kerakyatan, termasuk keberpihakan kepada keadilan sosial.

4. Contoh Program: Program-program yang memiliki multiplier effect ekonomi yang perlahan akan tumbuh, seperti MBG, Kopdes Merah Putih, dan Sekolah Rakyat, turut disinggung. Jonan mengakui bahwa kesempurnaan mungkin tidak bisa dicapai dari awal, tetapi perbaikan berjalan pelan-pelan dan mestinya terus berjalan.

Isu Sensitif dan Tawaran Jabatan Dikesampingkan

Meskipun Jonan dikenal memiliki keahlian di bidang perkeretaapian, ia menegaskan bahwa diskusi tidak menyentuh isu-isu tertentu yang bersifat teknis atau proyek besar.

Jonan menyatakan dirinya tidak diminta masukan mengenai isu spesifik seperti yang dipertanyakan oleh wartawan. Secara spesifik, Jonan menyebutkan bahwa Presiden tidak menanyakan pandangannya mengenai proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh, termasuk soal pengelolaan atau utangnya.

“Saya kira kalau saya enggak tahu ya kalau ee soal wusi beliau enggak tanya ke saya pandangannya apa segala enggak,” jelas Jonan, menambahkan bahwa Presiden pasti memiliki kebijakan sendiri mengenai hal tersebut.

Selain itu, Jonan dengan tegas membantah adanya tawaran pekerjaan atau jabatan resmi selama pertemuan dua jam tersebut.

“Enggak ada, enggak ada, enggak ada tawaran ini cuma diskusi,” kata Jonan.

Meskipun demikian, Jonan menyatakan bahwa sebagai warga negara, ia siap bekerja untuk negara jika ditugaskan dan jika ia mampu. Ia menggarisbawahi bahwa keputusannya kembali kepada pihak yang memberi tugas.

Secara keseluruhan, Jonan menyimpulkan bahwa diskusi yang ia lakukan adalah diskusi dan sharing pandangannya sebagai rakyat.