Bicara di Abu Dhabi, Eddy Soeparno: RI Punya 24 GW Panas Bumi, Baru Terpakai 10 Persen

Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno /Ist.

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, mengajak para pelaku industri energi global untuk menanamkan modalnya di sektor panas bumi (geothermal) Indonesia.

Eddy mengungkapkan fakta bahwa Indonesia memiliki harta karun energi hijau yang luar biasa besar, namun belum tergarap maksimal. Dari total potensi panas bumi sebesar 24 gigawatt (GW), baru sekitar 10 persen yang berhasil dimanfaatkan.

Hal tersebut disampaikan Eddy saat menjadi pembicara kunci dalam forum Geothermal Energy Dialogue di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Jumat (16/01).

“Indonesia diberkahi dengan potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia. Namun, saat ini baru sekitar 10 persen dari potensi tersebut yang berhasil dimanfaatkan,” ujar Eddy.

Geothermal sebagai ‘Baseload’

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menjelaskan bahwa di tengah transisi energi, Indonesia membutuhkan sumber energi bersih yang mampu berfungsi sebagai pemikul beban dasar (baseload) untuk menjaga stabilitas jaringan listrik.

Berbeda dengan tenaga surya atau angin yang bersifat intermiten (tergantung cuaca), panas bumi memiliki keunggulan operasional.

“Geothermal memiliki karakter unik karena mampu beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan dapat menyesuaikan beban sistem,” tuturnya.

Janjikan Cuan dari Pasar Karbon

Untuk menarik minat investor, Eddy memaparkan dukungan pemerintah melalui pembangunan infrastruktur super grid yang akan menghubungkan sumber energi dengan pusat permintaan di Pulau Jawa.

Selain itu, kepastian hukum juga dijamin melalui Perpres Nomor 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Energi Terbarukan dan Perpres Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon. Regulasi ini membuka peluang pendapatan ganda bagi investor: dari penjualan listrik dan perdagangan karbon.

“Selain pendapatan dari penjualan listrik, proyek geothermal juga memperoleh sumber pendapatan tambahan dari pasar karbon, sehingga meningkatkan kelayakan finansial dan daya tarik investasi,” pungkasnya.