Langkah Taktis Prabowo: Amankan Ekspor 0 Persen ke AS, Jaga Harga Kedelai Tahu Tempe Tetap Murah

Presiden Prabowo Subianto/IG

Jakarta, Generasi.co — Pemerintah Indonesia bersiap membuka keran transfer data konsumen dalam negeri ke Amerika Serikat (AS). Kebijakan strategis ini merupakan salah satu poin penting yang disepakati dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau Perjanjian Tarif Timbal Balik, yang baru saja diteken oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa aliran data lintas batas ini tidak akan dilakukan secara serampangan. Pemerintah memastikan prosesnya bersifat terbatas dan tunduk penuh pada undang-undang pelindungan data yang berlaku di Tanah Air.

“Indonesia juga mendorong transfer data lintas batas terbatas sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia,” jelas Airlangga dalam keterangan pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (22/2).

Sebagai kompensasi atas kesepakatan ini, pemerintah AS diwajibkan memberikan jaminan keamanan absolut terhadap data masyarakat Indonesia yang diproses di sana.

“Dan juga me-recognize bahwa Amerika pun akan memberikan perlindungan kepada data konsumen setara dengan perlindungan data konsumen yang diberlakukan di Indonesia,” tambah Menko Perekonomian.

Raih Tarif Terendah se-ASEAN, Ribuan Produk Nikmati Bea Masuk 0 Persen

Kesepakatan ART ini bukan hanya soal pertukaran data, melainkan juga kemenangan besar bagi diplomasi dagang Indonesia. Melalui negosiasi alot yang telah berlangsung sejak April 2025, Indonesia berhasil menekan rata-rata tarif impor produk ke AS menjadi 19 persen, turun drastis dari sebelumnya yang mencapai 32 persen. Angka ini diklaim sebagai tarif paling rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.

Lebih dari itu, pintu ekspor ke Negeri Paman Sam kini terbuka lebar. Sebanyak 1.819 pos tarif produk andalan Indonesia sukses mendapatkan fasilitas keringanan hingga menyentuh 0 persen.

Beberapa sektor utama yang menikmati fasilitas tarif nol persen ini meliputi:

  • Kelapa sawit (CPO)
  • Kopi dan kakao
  • Aneka rempah-rempah
  • Produk elektronik dan semikonduktor
  • Komponen atau alat pesawat terbang

Kabar baik juga berembus ke sektor padat karya. Produk pakaian jadi (apparel) dan tekstil Indonesia turut diganjar tarif 0 persen lewat mekanisme Tariff-Rate Quota (TRQ). Skema khusus ini diproyeksikan akan mengamankan mata pencaharian sekitar 4 juta pekerja pabrik dan memberikan efek domino kesejahteraan bagi lebih dari 20 juta penduduk Indonesia.

Timbal Balik: Impor Gandum dan Kedelai AS Jadi Bebas Tarif

Sesuai dengan prinsip resiprokal (timbal balik), Indonesia juga memberikan kelonggaran serupa bagi masuknya komoditas dari Amerika Serikat. Pemerintah membebaskan tarif bea masuk (0 persen) untuk produk gandum dan kedelai asal AS.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Pembebasan tarif bahan baku ini dinilai sangat krusial untuk menjaga stabilitas harga pangan di dalam negeri, khususnya bagi kelangsungan industri mie, tahu, dan tempe, sehingga beban harganya tidak mencekik konsumen rumah tangga.

Terkait pemberlakuannya, kesepakatan ART ini tidak serta-merta langsung dieksekusi. Perjanjian akan efektif berjalan 90 hari setelah seluruh tahapan legalitas di masing-masing negara rampung. Di Indonesia sendiri, pemerintah harus terlebih dahulu melakukan konsultasi dan mendapat lampu hijau dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.