Generasi.co, LOS ANGELES – Timnas Amerika Serikat menjelma menjadi salah satu tim kejutan di Piala Dunia 2026 setelah meraih dua kemenangan beruntun dan memastikan diri menjadi juara Grup D sebelum laga terakhir.
Pelatih Mauricio Pochettino menyebut kebangkitan tersebut bukan terjadi secara instan. Menurutnya, proyek yang ia bangun selama hampir dua tahun dimulai dari situasi yang jauh lebih buruk daripada perkiraan ketika pertama kali menangani tim berjuluk The Yanks itu.
“Kami salah menilai. Situasinya lebih buruk daripada yang kami kira,” kata Pochettino kepada wartawan, Selasa (24/6/2026).
Amerika Serikat kini akan menghadapi Turki di SoFi Stadium, Kamis (26/6/2026), sebelum melakoni babak 32 besar pada 1 Juli di Santa Clara, California.
Di ruang kerjanya di hotel tim, Pochettino menempelkan berbagai pesan motivasi di dinding. Salah satu slogan yang menjadi pegangan skuadnya berbunyi, “Why Not U.S.”
Pelatih asal Argentina itu mengatakan setiap kutipan yang dipasang di ruangannya menggambarkan perjalanan tim sejak hari pertama hingga sekarang.
“The talent has brought us here, but it is heart, effort and unity that will make us unforgettable,” demikian salah satu pesan yang terpampang.
Ada pula pesan lain berbunyi, “Believe, work, compete.”
“Tanpa salah satu dari itu, bencana,” ujar Pochettino.
Mantan pelatih Tottenham Hotspur, Paris Saint-Germain, dan Chelsea itu mengaku proses membangun ulang tim tidak berjalan mulus. Ia bahkan menyebut kegagalan Amerika Serikat finis di posisi keempat pada CONCACAF Nations League 2025 sebagai titik balik yang menyakitkan, tetapi diperlukan.
“It was painful, but it was necessary. It was a good crash,” katanya.
Setelah kegagalan tersebut, Pochettino merombak fondasi tim, membangun budaya baru, dan memberi kesempatan kepada skuad yang lebih muda. Hasilnya mulai terlihat ketika Amerika Serikat menutup tahun 2025 tanpa kekalahan dalam lima pertandingan melawan tim-tim yang juga lolos ke Piala Dunia.
Winger Tim Weah menilai kehadiran Pochettino membawa perubahan besar dalam mentalitas tim.
“He introduced South American grit,” kata Weah.
Menurutnya, tim-tim Amerika Selatan selalu memiliki daya juang dan mental bertanding yang kuat, sesuatu yang sebelumnya belum dimiliki Amerika Serikat.
Pochettino juga berusaha menanamkan keyakinan bahwa timnya mampu melampaui ekspektasi. Pada November lalu, ia mengingatkan para pemain tentang Korea Selatan pada 2002 dan Maroko pada 2022 yang mampu menembus semifinal Piala Dunia.
“Why not us?” kata Pochettino kepada para pemainnya saat itu.
Pelatih berusia 54 tahun tersebut mengaku mulai melihat kemajuan tim meski Amerika Serikat sempat menelan kekalahan telak dari Belgia dan Portugal dalam laga uji coba.
Kini, dengan performa impresif di fase grup, impian melangkah jauh di Piala Dunia tidak lagi dianggap sebagai khayalan.
Kontrak Pochettino bersama Federasi Sepak Bola Amerika Serikat akan berakhir setelah Piala Dunia 2026. Meski diperkirakan akan menerima banyak tawaran dari klub-klub Eropa, ia belum menutup kemungkinan bertahan.
“We are open,” ujarnya.
Ia mengatakan ingin membantu membangun warisan yang lebih besar bagi sepak bola Amerika Serikat, terutama memperkuat hubungan antara tim nasional dan para pendukungnya.
“For me, the legacy is not to win the World Cup. The legacy is the connection between the national team and the fans,” kata Pochettino.










