JAKARTA, Generasi.co — Stigma koperasi sebagai lembaga keuangan “jadul” yang hanya diminati kalangan tua perlahan mulai dikikis. Pemerintah, melalui Kementerian Koperasi, kini mengambil langkah progresif untuk merevitalisasi koperasi agar masuk ke ruang-ruang anak muda melalui pendekatan komunitas, pendidikan, dan platform digital.
Gagasan segar ini mencuat dalam agenda audiensi antara Menteri Koperasi (Menkop) dengan Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) di Jakarta, Rabu (25/2/2026). Pertemuan strategis ini tidak hanya membahas perkembangan koperasi secara umum, tetapi juga menjajaki potensi kerja sama konkret ke depan.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah petinggi PP PERSIS, di antaranya Ketua Bidang Maliyah PP PERSIS, Aay M. Furkan; Wakil Bendahara Umum PP PERSIS, Cucu Cumarna; beserta jajaran pengurus lainnya.
Ubah Wajah Koperasi Jadi Motor Ekonomi Anak Muda
Dalam arahannya, Menkop menegaskan bahwa masa depan perekonomian nasional berada di tangan generasi milenial dan Gen Z. Oleh karena itu, koperasi harus dirombak total dan dikemas dengan narasi yang progresif, inklusif, serta selaras dengan jiwa kewirausahaan anak muda masa kini.
“Generasi milenial dan Gen Z memiliki energi, kreativitas, serta semangat kolaborasi yang besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi masa depan. Koperasi harus semakin berani masuk ke ruang-ruang anak muda,” tegas Menkop dalam pernyataannya.
Untuk merealisasikan visi tersebut, pemerintah mendorong tiga pilar utama transformasi koperasi:
- Penetrasi Komunitas: Menjadikan wadah hobi dan komunitas kreatif sebagai embrio terbentuknya koperasi-koperasi baru yang modern.
- Integrasi Pendidikan: Mengenalkan prinsip ekonomi gotong royong yang relatable melalui kurikulum atau kegiatan literasi di sekolah dan kampus.
- Pemanfaatan Platform Digital: Menggeser layanan konvensional menjadi aplikasi digital terintegrasi yang cepat, transparan, dan mudah diakses lewat ponsel pintar.
Dengan langkah-langkah transformatif ini, generasi muda diharapkan tidak lagi sekadar menjadi objek pasar, melainkan memiliki rasa kepemilikan (sense of belonging) dan terlibat langsung sebagai subjek utama dalam membangun ekosistem koperasi yang kuat, relevan, serta berkelanjutan.










