JAKARTA, Generasi.co — Menghadapi dinamika ekonomi tahun 2026, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memilih strategi yang lebih hati-hati (prudent). Raksasa perbankan pelat merah ini memutuskan untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit, dengan mematok target pertumbuhan konservatif di angka single digit, yakni pada kisaran 7 hingga 9 persen.
Langkah ini diambil demi menjaga kualitas aset perusahaan. Manajemen BRI menegaskan akan memusatkan penyaluran kredit hanya pada sektor-sektor yang terbukti tangguh dan berkualitas tinggi.
“Kita memang sangat selektif memilih sektor-sektor yang berkualitas, yang tentunya bisa memberikan yield yang bagus, tapi di sisi lain juga tidak membawa kualitas aset yang buruk bagi BRI,” tegas Direktur Utama BRI, Sunarso, dalam konferensi pers Paparan Kinerja Keuangan Triwulan IV 2025 yang digelar secara daring di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Kilas Balik 2025: Kredit Tumbuh 12,3 Persen, NPL Terjaga
Sebagai perbandingan, capaian BRI pada penutupan tahun 2025 terbilang cukup agresif. Penyaluran kredit BRI secara konsolidasi berhasil tumbuh sebesar 12,3 persen (year-on-year/yoy), mencapai angka Rp1.521 triliun. Segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap menjadi tulang punggung penyaluran kredit tersebut.
Dari sisi indikator kesehatan aset, BRI berhasil menjaga rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) di level aman, yakni 3,07 persen pada akhir 2025. Sejalan dengan itu, rasio Loan at Risk (LAR) juga mencatatkan tren perbaikan, turun dari 10,7 persen pada akhir 2024 menjadi 9,6 persen di akhir 2025.
Strategi 2026: Autodebet Segmen Mikro hingga Sinergi Korporasi
Untuk mempertahankan kualitas kredit di tahun 2026, khususnya pada segmen mikro yang sangat rentan, BRI telah menyiapkan sejumlah langkah optimalisasi bisnis, di antaranya:
- Penyempurnaan Model Bisnis dan Penagihan: Meningkatkan aktivitas penagihan preventif oleh para mantri BRI di lapangan guna memastikan kedisiplinan nasabah dalam membayar cicilan.
- Penerapan Mekanisme Autodebet: Nasabah segmen mikro yang memiliki rekening tabungan di BRI akan diarahkan pada skema pembayaran autodebet. Nasabah diharapkan mengendapkan saldo setara satu hingga dua kali angsuran agar terhindar dari keterlambatan bayar (kolektibilitas 2). Skema ini sebelumnya telah sukses diterapkan pada produk konsumer seperti KPR dan Kredit Kendaraan Bermotor.
- Sinergi Segmen Korporasi dan Konsumer: Menggunakan segmen commercial dan corporate banking yang solid sebagai sumber lead (prospek) bagi segmen konsumer. Hal ini bertujuan untuk mendongkrak Kredit Tanpa Agunan (KTA) berbasis payroll yang memiliki profil risiko lebih rendah.
Genjot Dana Murah Lewat Ekosistem Digital
Selain fokus pada penyaluran kredit, BRI juga terus memperbaiki struktur pendanaannya (funding). Sepanjang tahun 2025, bank ini sukses mencatatkan rasio dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) hingga menyentuh angka 70,6 persen.
Sunarso menjelaskan bahwa perolehan dana murah dari giro dan tabungan akan terus dipacu melalui penguatan mesin transaction banking. Ekosistem digital menjadi ujung tombak strategi ini.
“Jadi kita memang ingin leading di sisi funding murah atau CASA ratio. Ekosistem seperti super apps BRImo, transaksi QRIS dan EDC, platform QLola, hingga Agen BRILink akan terus didorong untuk meningkatkan volume dan frekuensi transaksi,” urai Sunarso.
Menatap 2026 dengan Inisiatif BRIVolution
Secara keseluruhan, jajaran direksi optimistis bahwa melalui inisiatif transformasi BRIVolution Reignite, efisiensi bank akan semakin membaik. Peningkatan dana murah diyakini akan menekan biaya dana (Cost of Fund/CoF), sehingga margin keuntungan perusahaan tetap stabil.
Dengan proses underwriting yang lebih ketat dan akuisisi nasabah baru yang selektif, portofolio kredit lancar BRI diproyeksikan akan mendominasi. “Harapannya, tahun 2026 BRI akan tampil lebih baik dibandingkan dengan tahun 2025,” tutup Sunarso optimistis.










