JAKARTA, Generasi.co — Bagi Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, esensi kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa lama seorang pejabat duduk di kursi empuk ruang kerjanya. Kepemimpinan justru diuji saat ia bersedia turun ke bawah, duduk bersila, dan membuka telinga untuk menyerap kebijaksanaan dari akar rumput dan tokoh agama.
Filosofi ini kembali ia tegaskan saat melakukan kunjungan silaturahmi (sowan) ke Pondok Pesantren Asshodiqiyah. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya baru-baru ini, Sudaryono membagikan refleksi mendalamnya tentang bagaimana seharusnya sebuah amanah kekuasaan dikelola.
“Memimpin bukan urusan duduk di belakang meja kerja, melainkan turun bersila menyerap petuah. Sowan di Pondok Pesantren Asshodiqiyah membuka dimensi baru tentang tata cara mengelola amanah. Saya bertukar gagasan, berdiskusi bersama para kiai,” tulis Sudaryono membuka ceritanya.
Ulama Sebagai ‘Kompas’ Pembangunan Bangsa
Sebagai pejabat negara yang kini sibuk mengurus lumbung pangan dan kesejahteraan petani, Sudaryono menyadari betul godaan dan tantangan kekuasaan. Menurutnya, sehebat apa pun program pemerintah dirancang, ia berpotensi membawa kehancuran jika kehilangan pijakan moral.
Dalam pandangannya, tata kelola negara yang baik membutuhkan sinergi dua pilar utama:
- Pemimpin (Umara) sebagai Eksekutor: Fokus pada kerja nyata, mengeksekusi program, dan memastikan kebijakan berjalan optimal untuk kesejahteraan rakyat.
- Ulama (Kiai) sebagai Kompas Spiritual: Bertugas memberikan panduan moral dan memastikan arah kebijakan tidak melenceng dari nilai-nilai keagamaan.
“Kekuasaan seringkali menjadi bumerang bila luput mendapat panduan moral ulama. Pemimpin bertugas mengeksekusi program, sedangkan kiai memegang kompas spiritual agar arah pembangunan tidak tersesat,” tegas pria kelahiran Grobogan tersebut.
Harmoni Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan
Kunjungan hangat yang disambut langsung oleh keluarga besar Ponpes Asshodiqiyah ini semakin memperkuat keyakinan Sudaryono bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pesantren adalah kunci ketenteraman masyarakat.
Pembangunan fisik dan ekonomi, menurutnya, harus selalu berjalan beriringan dengan pembangunan mental dan spiritual. Di akhir pesannya, Sudaryono mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu padu membangun masa depan bangsa.
“Harmoni kedua pilar ini menjamin ketentraman warga. Terima kasih atas jamuan hangat keluarga besar Asshodiqiyah. Rapatkan barisan, pastikan masa depan tersusun rapi bersandarkan nilai ketuhanan serta kemanusiaan,” pungkasnya.










