Prospek Saham BRI 2026 Diprediksi Cerah: Rajanya UMKM yang Siap Guyur Dividen Jumbo!

Catat Tanggalnya! Dividen BBRI Rp52,1 Triliun Siap Dibagikan untuk Pemegang Saham/Ist.

Jakarta, Generasi.co — Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (kode saham: BBRI) diyakini akan tetap kokoh dan menjadi primadona bagi para investor sepanjang tahun 2026. Optimisme ini didorong oleh rekam jejak bank yang kini dinakhodai oleh Direktur Utama Hery Gunardi tersebut dalam mencetak keuntungan raksasa, khususnya melalui ekspansi kredit yang tajam ke segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sebagai agent of development, BRI terbukti piawai menyeimbangkan tugas negara untuk menghidupkan sektor usaha rakyat, tanpa harus mengorbankan posisinya sebagai perusahaan yang sangat berorientasi pada laba.

1. Punya ‘Economic Moat’ dan Dividen Ramah Investor

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai BRI memiliki economic moat (keunggulan kompetitif jangka panjang) yang solid dalam menjaga pangsa pasar dan profitabilitas dibandingkan para pesaingnya.

Kepercayaan pasar semakin tebal setelah BRI memutuskan untuk menyetor dividend payout ratio sebesar 92% atau senilai Rp52,1 triliun.

“Prospeknya solid. Pendorongnya ekspansi kredit segmen mikro dengan margin tinggi, rasio CASA yang kuat, dan perbaikan kualitas aset. Dividennya menarik karena yield yang relatif tinggi. Ini juga mencerminkan fundamental yang solid, profitabilitas tangguh, likuiditas kas melimpah, dan shareholder-friendly,” jelas Wafi kepada media, Senin (20/4/2026).

2. Daya Tarik Tertinggi di Antara Bank Himbara

Pandangan senada diutarakan oleh Deputy President Director Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma. Ia menegaskan bahwa tebaran dividen BRI merupakan yang paling besar dibandingkan bank-bank pelat merah (Himbara) lainnya. Hal inilah yang membuat saham BBRI selalu menjadi incaran investor institusi maupun ritel.

Meski begitu, Suria memberikan catatan terkait tantangan utama yang harus dibereskan manajemen Hery Gunardi ke depan, yakni pengendalian Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah.

“Tantangan ke depan memang bagaimana BRI menurunkan kembali NPL-nya dan pemilihan penyaluran kredit. Bisnis mikro yang dulu menjadi andalan, sekarang lebih fokus kepada pemulihan kualitas kredit,” tegas Suria.

3. Kunci Sukses: Disiplin Underwriting

Sementara itu, Pengamat Perbankan Universitas Bina Nusantara (BINUS), Doddy Ariefianto, menyoroti aspek manajemen risiko. Merujuk data historis per September 2024, meski NPL kredit UMKM secara umum masih di bawah ambang batas (sekitar 4,00%), angka tersebut tetap lebih tinggi dibanding rata-rata NPL gross perbankan umum di kisaran 2,2%.

Selain itu, risiko konsentrasi penyaluran kredit masih nyata, di mana 46,12% terpusat di sektor perdagangan besar/eceran dan 56,00% menumpuk di Pulau Jawa.

“Artinya, menambah pembiayaan UMKM bisa aman kalau underwriting-nya disiplin, portofolionya terdiversifikasi, dan monitoring-nya kuat; bukan aman karena volumenya besar semata,” tukas Doddy.

Secara garis besar, para analis sepakat bahwa BRI berhasil menjadikan UMKM sebagai mesin pertumbuhan utama tanpa kehilangan disiplin risiko, sebuah jurus jitu yang membuat fundamental bank ini tetap kokoh di tahun 2026.