Pangkalpinang, Generasi.co — Di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang mengancam stabilitas dunia, Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A. (HNW), melontarkan pesan optimisme. Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki “kekuatan imun” bernama Pancasila yang terbukti ampuh meloloskan bangsa dari berbagai krisis sejarah.
Pernyataan tersebut disampaikan HNW dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara di Pangkalpinang, Bangka Belitung, Sabtu (18/4/2026). Forum yang bekerja sama dengan DPW PKS Babel ini mengusung tema krusial: “Mengokohkan Ketahanan Nasional dalam Menghadapi Krisis melalui Nilai-Nilai Pancasila.”
Belajar dari Runtuhnya Uni Soviet dan Yugoslavia
HNW membandingkan ketangguhan Indonesia dengan negara-negara adidaya masa lalu. Uni Soviet, meski punya intelijen dan militer raksasa, hancur berkeping menjadi 15 negara pada 1991. Begitu pula Yugoslavia yang kini terhapus dari peta.
Menurut HNW, kehancuran mereka disebabkan oleh ideologi yang “diimpor” dan tidak mengakar pada bumi mereka sendiri. Sebaliknya, Indonesia dengan 17.000 pulau dan ratusan suku tetap utuh karena Pancasila digali dari nilai-nilai lokal.
“Kalau kita tidak mempunyai ideologi yang tumbuh kembang dari Indonesia sendiri, maka kasus Uni Soviet dan Yugoslavia bisa terjadi. Tapi kita tetap kokoh karena mempunyai ideologi yang menyatukan. Ideologi ini tumbuh dari dalam, digali bersama oleh tokoh nasional dan tokoh umat Islam,” tegas HNW.
Pengorbanan Tokoh Islam: Kunci Persatuan Bangsa
Politisi senior PKS ini mengingatkan kembali jasa besar para tokoh Islam dalam merajut kebangsaan. Ia mencontohkan kebesaran hati tokoh-tokoh seperti KH Wahid Hasyim hingga Agus Salim yang rela menghapus “tujuh kata” dalam Piagam Jakarta demi mengakomodasi keberatan masyarakat Indonesia Timur.
Tak hanya itu, HNW menyoroti Mosi Integral Natsir pada 3 April 1950 sebagai penyelamat NKRI dari pecah belah Belanda. Ia menegaskan bahwa istilah dalam Pancasila seperti “Adil” dan “Rakyat” adalah serapan dari Al-Qur’an dan hadis.
Partai Islam Harus di Garda Terdepan Atasi Krisis Ekonomi
Menghadapi potensi krisis energi dan pangan—seperti kenaikan harga BBM hingga kedelai—HNW menyebut masyarakat Indonesia memiliki mekanisme bertahan hidup yang unik. Ia mencontohkan cara kreatif warga menyiasati harga kedelai dengan mengecilkan ukuran tempe tanpa menaikkan harga sebagai bentuk kecerdasan lokal.
Oleh karena itu, ia mendesak agar partai politik, khususnya partai Islam, tidak dipinggirkan dalam mencari solusi bangsa.
“Sudah sewajarnya bila umat Islam, ormas Islam, hingga partai Islam dipercaya untuk kembali menjadi garda terdepan turut menyelesaikan krisis yang kita hadapi, termasuk krisis-krisis akibat perang di Timur Tengah,” pungkasnya.
Forum ini turut dihadiri oleh Presiden PKS Almuzzammil Yusuf dan berbagai perwakilan ormas besar seperti Muhammadiyah, NU, serta Lembaga Adat Melayu, yang sepakat memperkuat sinergi nasional berbasis nilai Pancasila.










