IHSG Anjlok ke Level 6.900-an, Dirut BRI Beri Pesan Tegas: Fokus Blue Chip, Jangan Pantau Harga Tiap Hari!

BNI Himpun USD700 Juta dari AT1, Permintaan Investor Oversubscribe 3,6 Kali/Ist.

Jakarta, Generasi.co — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan dan berujung pada pelemahan tajam pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Merespons fluktuasi pasar tersebut, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Hery Gunardi, mengimbau para investor di pasar modal untuk tidak panik dan kembali mengingat tujuan awal investasi mereka.

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 11.23 WIB, IHSG tercatat merosot 165,929 poin atau minus 2,34 persen, membawanya jatuh ke level 6.935,297. Padahal, indeks sempat dibuka di zona hijau pada level 7.103,256 dan menyentuh titik tertinggi di 7.109,004 sebelum akhirnya terperosok ke titik terendah di 6.929,589.

Di tengah kondisi pasar yang sedang tertekan tersebut, Hery Gunardi membagikan pandangannya. Menurutnya, langkah pertama yang wajib dilakukan investor dalam merespons pasar adalah memahami objective atau tujuan investasinya.

“Ini melihatnya dari angle investor. Nah kalau investor di pasar modal itu kan ada beberapa objektif gitu, ada yang jangka pendek, ada yang jangka panjang,” ujar Hery dalam konferensi pers virtual pemaparan kinerja kuartal I 2026 BRI, Kamis (30/4/2026).

Napas Panjang untuk Investor Jangka Panjang

Hery menjelaskan, strategi investasi mutlak harus diselaraskan dengan tujuan. Bagi investor yang membidik horizon waktu jangka menengah hingga jangka panjang—yakni sekitar 5 hingga 20 tahun—ia sangat menyarankan untuk menempatkan dana pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan fundamental yang kokoh (blue chip).

“Dan belilah saham-saham yang blue chip, yang fundamentalnya bagus seperti BBRI,” sebutnya.

Lebih lanjut, bos bank pelat merah tersebut mengingatkan agar investor jangka panjang tidak mudah terpengaruh oleh pergerakan harga saham harian. Menurutnya, memantau fluktuasi harga saham setiap hari justru hanya akan memicu stres.

“Maksudnya apa? Anda gak usah terlalu lihat, karena kita seperti saya juga adalah investor yang jangka menengah dan jangka panjang. Kita gak usah lihat harga saham naik turun, naik turun itu bikin namanya tekanan darah naik juga,” kelakar Hery.

“Kalau mau one day trading itu lain gitu, tapi kalau mau jangka panjang ya Anda mesti napasnya juga panjang, gak usah dilihat gitu ya,” tegasnya.

Fokus pada Fundamental dan Dividen

Saat IHSG sedang memerah, Hery menyarankan investor untuk mengalihkan fokus dari layar pergerakan harga harian ke aspek fundamental perusahaan, salah satunya adalah riwayat dan potensi pembagian dividen.

Ia meyakini bahwa sentimen negatif yang menekan pasar saat ini bersifat sementara. Selama kondisi makroekonomi, baik di tingkat global maupun domestik, menunjukkan tren perbaikan, maka pasar saham secara otomatis akan kembali bangkit.

“Nanti kan market-nya bagus ya, makro ekonominya membaik, baik itu global maupun lokal, saham-saham itu pasti akan ikut naik, indeks akan ikut naik. Jadi itu tipsnya, silakan kalau mau berinvestasi, jangan lupa ya pilih yang blue chip, jangan pilih saham yang tidak blue chip,” pungkas Hery.