Cerita Wamentan Sudaryono 5 Tahun “Nyantri” ke Prabowo: Diajari Hukum Murphy hingga Pesan Emas Prof Soemitro

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono/IG

Jakarta, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono membagikan sepenggal kisah perjalanan hidupnya yang penuh tempaan keras, mulai dari perjuangannya sebagai anak desa yang kuliah di Jepang, hingga pengalamannya menjadi asisten pribadi Presiden Prabowo Subianto.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya baru-baru ini, Sudaryono membeberkan bagaimana lima tahun masa pengabdiannya mendampingi Prabowo telah mengubah total cara pandangnya terhadap sebuah tanggung jawab dan kepemimpinan.

Stres Luar Biasa Hadapi Sang Perfeksionis

Sudaryono tak menampik bahwa menjadi asisten seorang Prabowo Subianto bukanlah pekerjaan mudah. Ia secara blak-blakan menyebut pengalaman tersebut sering kali memicu stres tingkat tinggi lantaran standar kerja Prabowo yang sangat perfeksionis.

Satu kesalahan kecil saja, kata Sudaryono, pasti akan berujung pada teguran keras. Dalam rutinitas pekerjaan yang penuh tekanan itu, Prabowo selalu menanamkan satu prinsip fundamental kepadanya: Hukum Murphy (Murphy’s Law).

Murphy’s Law, Dar,” kata beliau berulang kali. “What may go wrong, it usually goes wrong. Apa pun yang berpotensi salah, kemungkinan besar bakal salah,” kenang Sudaryono menirukan ucapan Prabowo.

Bagi Prabowo, solusi untuk menaklukkan Hukum Murphy tersebut adalah dengan kedisiplinan tingkat tinggi. “Solusinya? Cek, cek, dan cek lagi. Jangan kasih ruang buat kelalaian,” tegas Sudaryono.

Pesan Warisan Prof. Soemitro: Memihaklah pada Rakyat!

Lima tahun “nyantri” bersama Prabowo tidak hanya soal kedisiplinan kerja, tetapi juga mewariskan sebuah kompas moral dalam mengambil keputusan. Sudaryono mengungkapkan satu pesan warisan dari ayahanda Prabowo, Begawan Ekonomi Prof. Soemitro Djojohadikusumo, yang selalu dipegang teguh saat menghadapi dilema kewenangan.

Pesan tersebut menjadi panduan utama bagi siapa pun yang memegang amanah besar.

When you are in doubt, always side with your people. Kalau kamu lagi ragu-ragu memilih keputusan, pastikan pilihannya memihak kepentingan orang banyak. Itu pasti benar,” tulis Sudaryono. Keputusan terbaik, tambahnya, hanya muncul saat pemimpin berani membela kepentingan rakyat.

Mental Petarung dari Si Anak Desa

Sebelum digembleng oleh Prabowo, mental pantang menyerah Sudaryono sejatinya telah terbentuk sejak ia menempuh pendidikan di Jepang. Menyadari dirinya hanya seorang “anak desa” dengan kemampuan bahasa yang pas-pasan, ia harus berjuang ekstra keras.

“Tiap presentasi, bikin laporan pakai huruf kanji, rasanya mau menyerah. Tapi kita paksa. Hasilnya? Lulus memuaskan. Tidak ada kata mustahil buat pemuda yang mau bekerja keras,” pungkasnya.