Partisipasi perempuan di industri teknologi Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius bagi upaya meningkatkan daya saing dan inovasi nasional.
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mengatakan kesenjangan gender di sektor Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) bukan sekadar persoalan kesetaraan, melainkan isu strategis yang berdampak langsung terhadap pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Kesetaraan perempuan di bidang STEM bukan sekadar isu keadilan sosial. Ini adalah kepentingan strategis bangsa yang membutuhkan penanganan sistematis,” kata Lestari dalam keterangan tertulis, Senin (8/6).
Data yang terungkap dalam Indonesia Chief Information Officer (CIO) 200 Summit 2026 di Jakarta menunjukkan partisipasi perempuan di industri teknologi Indonesia masih berada di bawah 20 persen. Dari jumlah tersebut, perempuan yang menduduki posisi pimpinan tertinggi hanya sekitar 8 persen.
Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan Thailand yang mencapai 42 persen dan Singapura 41 persen.
Lestari, yang akrab disapa Rerie, juga mengutip data International Labour Organization (ILO) 2024 yang menunjukkan perempuan hanya menyumbang sekitar 35 persen dari total lulusan STEM di Indonesia. Namun, yang benar-benar berkarier di sektor tersebut hanya sekitar 8 persen.
Menurut dia, fakta tersebut menunjukkan persoalan utama bukan terletak pada kemampuan akademik perempuan.
“Data ini menunjukkan persoalan utamanya bukan pada kemampuan akademik perempuan. Banyak perempuan memiliki prestasi yang sangat baik di bidang sains dan matematika, tetapi mereka masih menghadapi hambatan sosial dan stereotip gender yang membatasi partisipasi mereka,” ujarnya.
Rerie menjelaskan, hambatan tersebut kerap muncul sejak usia dini melalui ekspektasi sosial yang membentuk persepsi bahwa bidang sains dan teknologi bukan pilihan karier yang realistis bagi perempuan.
Akibatnya, banyak perempuan yang memiliki kemampuan di bidang STEM tidak melanjutkan pendidikan atau kariernya ke sektor tersebut.
Untuk mengatasi persoalan itu, anggota Komisi X DPR RI tersebut mendorong penguatan peran keluarga, lembaga pendidikan, dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia agar lebih mendukung keterlibatan perempuan di bidang STEM.
Ia menilai sekolah dan perguruan tinggi perlu membangun lingkungan belajar yang inklusif dengan memberikan ruang lebih besar bagi perempuan untuk terlibat dalam riset, diskusi ilmiah, hingga kepemimpinan akademik.
Menurut Rerie, pembangunan ekosistem pendidikan yang inklusif akan membuka peluang lebih luas bagi generasi muda perempuan untuk berkontribusi dalam inovasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan.
“Dengan membuka akses yang lebih luas bagi perempuan di sektor STEM, Indonesia tidak hanya mewujudkan keadilan gender, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing,” kata Rerie.










