Viral, Mahasiswi UI Ciptakan Bra Inklusif untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas

Viral, Mahasiswi UI Ciptakan Bra Inklusif untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas/IG

Lima mahasiswi Program Studi Bisnis Kreatif Universitas Indonesia (UI) mencuri perhatian publik setelah mengembangkan bra inklusif yang dirancang khusus untuk membantu lansia dan penyandang disabilitas. Produk bernama Rekat itu menawarkan sistem pengunci magnet di bagian depan untuk memudahkan pengguna mengenakan pakaian dalam secara mandiri.

Inovasi tersebut viral di media sosial setelah diperkenalkan melalui akun Instagram milik Quency Nova Mardira, Annas Tasya, Aulia Attaya, Patricia Revi, dan Nayang Nurizah. Unggahan mengenai produk tersebut telah ditonton lebih dari 100 ribu kali dan menuai beragam respons positif dari warganet.

Rekat merupakan bra tanpa kawat dengan sistem front magnetic interlock atau pengunci magnet di bagian depan. Produk ini dikembangkan untuk membantu kelompok lansia, penyandang disabilitas, individu dengan keterbatasan motorik, gangguan saraf, hingga penderita autoimun yang kerap mengalami kesulitan saat mengenakan bra konvensional.

Ide pengembangan Rekat bermula dari tugas akhir mata kuliah Product Development di semester enam Program Studi Bisnis Kreatif UI.

“Ini sebenarnya tugas akhir UAS buat mata kuliah Product Development di Bisnis Kreatif UI semester 6. Kita coba buat Rekat sebagai pengembangan dari bra dengan desain yang lebih praktis dan memudahkan disabilitas,” ujar Quency Nova Mardira saat dikonfirmasi pada Kamis (11/6/2026).

Sebelum mengembangkan produk tersebut, tim melakukan wawancara dan uji coba langsung kepada lansia serta penyandang disabilitas tak tampak (invisible disabilities). Dari proses itu mereka menemukan bahwa pengait bra di bagian belakang sulit dijangkau oleh sebagian pengguna, sementara kawat penyangga kerap menimbulkan rasa tidak nyaman ketika digunakan dalam waktu lama.

Temuan tersebut mendorong mereka melakukan riset dari nol, mulai dari berkonsultasi dengan pelaku industri lingerie, mempelajari struktur pakaian dalam, hingga membuat prototipe berbahan micro spandex yang lebih lembut dan nyaman digunakan.

Inspirasi awal Rekat justru datang dari produk kosmetik yang dirancang ramah disabilitas.

“Awalnya inspired by Rare Beauty-nya Selena Gomez yang bikin semua produknya disabilitas friendly, seperti parfum dengan spray datar. Dari situ kita mikir, apa ya yang kita pakai sehari-hari as perempuan? Oh iya, bra. Dari situ kita coba otak-atik bra-nya biar lebih memudahkan, seperti bikin pengait jadi di depan dan pakai magnet,” kata Quency.

Meski masih berstatus prototipe, tim mengaku melakukan riset material secara serius untuk memastikan produk tetap nyaman sekaligus aman digunakan. Salah satu tantangan terbesar adalah memodifikasi sistem magnet agar dapat berfungsi sebagai pengunci bra yang aman.

“Kesulitannya paling cari magnet khusus yang harus kita modifikasi biar lebih safety pengait bra-nya,” ujarnya.

Melalui Rekat, para mahasiswi tersebut ingin menunjukkan bahwa kenyamanan berpakaian seharusnya dapat diakses oleh semua perempuan, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

“Karena buat kami kenyamanan itu bukan sekadar soal pakaian yang dipakai sehari-hari. Tapi juga tentang bagaimana seseorang bisa merasa lebih percaya diri, didukung, dan dilihat lewat Rekat. Kami percaya dari inovasi kecil bisa jadi langkah yang besar. Meet Rekat, a lingerie, not a medical device,” tulis mereka dalam unggahan di Instagram.

Mereka juga menegaskan bahwa Rekat merupakan produk pakaian dalam dengan desain inklusif dan bukan alat medis.

“Ini murni pakaian dalam dengan desain inklusif, bukan alat medis. Kami ingin setiap wanita merasa percaya diri dengan tubuh mereka, bagaimanapun kondisinya,” kata Quency.

Meski mendapat respons positif dan banyak pertanyaan terkait peluncuran produk, tim Rekat menyatakan pengembangan masih berlangsung dan belum menentukan jadwal pemasaran secara resmi.

“Tapi kita masih dalam tahap develop product-nya ya. Masih belum tahu ya, kami masih R&D (Research and Development),” pungkasnya.