Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan pentingnya keseimbangan dalam tata kelola pangan nasional agar dapat melindungi petani sekaligus konsumen dari gejolak harga yang merugikan.
Ia menyoroti kondisi yang kerap terjadi di lapangan, di mana petani mengalami kerugian saat harga anjlok, sementara masyarakat di pasar justru terbebani ketika harga melambung.
“Saat harga anjlok, petani menangis. Saat harga melambung, ibu-ibu di pasar menjerit,” ujar Sudaryono melalui media sosial.
Menurutnya, pemerintah memiliki kewajiban menjaga keseimbangan tersebut melalui penguatan peran lembaga pangan dan pengelolaan stok nasional. Ia menegaskan bahwa ketersediaan barang menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas harga, bukan semata untung dan rugi.
Sudaryono juga mendorong kaji ulang tata kelola pangan nasional agar negara memiliki cadangan stok yang cukup sehingga dapat segera bertindak ketika terjadi kelangkaan.
“Lembaga pangan mestinya bertugas mengendalikan keadaan. Untung rugi bukan ukuran utama. Ketersediaan barang penentunya,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat harga naik harus segera ditekan, sementara ketika harga turun harus segera distabilkan agar tidak merugikan petani.
“Harga tinggi harus lekas turun, harga anjlok wajib lekas naik. Pantang melihat publik dibuat kesusahan,” kata Sudaryono.
Menurutnya, tujuan utama kebijakan pangan adalah memastikan kesejahteraan petani sekaligus melindungi konsumen secara seimbang.
“Kita memastikan petani dan peternaknya sejahtera, konsumennya terlindungi,” ujarnya.










