Kronologi Lengkap Siswi Karo Diduga Keracunan MBG hingga Hilang Ingatan

Generasi.co, Karo – Seorang siswi berusia 16 tahun berinisial F menjadi salah satu korban dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Setelah sempat menjalani perawatan dan dinyatakan membaik, kondisi F kembali memburuk hingga mengalami kejang dan gangguan ingatan.

Kasus tersebut bermula pada Kamis (13/8/2026), ketika ratusan siswa dari lima sekolah di Kabupaten Karo diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG. F termasuk siswa yang kemudian menjalani perawatan di rumah sakit.

F dirawat selama tiga hari. Pada awal perawatan, keluarga mengatakan F belum menunjukkan gangguan pada kemampuan mengingat. Setelah tiga hari menjalani perawatan, kondisinya sempat dinilai normal dan F diperbolehkan pulang.

Perubahan kondisi terjadi setelah F berada di rumah. Ia mengalami kejang sehingga kembali dibawa ke RS Haji Medan.

Sejak menjalani perawatan di RS Haji Medan, keluarga mulai melihat perubahan pada kemampuan bicara dan ingatan F. Ia disebut berbicara seperti anak-anak dan beberapa kali tidak mengenali orang-orang di sekitarnya.

F bahkan disebut tidak lagi mengenali anggota keluarga, guru, serta teman-teman sekolahnya. Kondisi tersebut membuat keluarganya khawatir karena sebelum kejadian, F dikenal sebagai siswi berprestasi. Ia disebut selalu meraih peringkat pertama sejak awal sekolah dan dipercaya sebagai Wakil Ketua OSIS.

Meski kondisinya belum pulih, F masih mengungkapkan keinginan untuk kembali bersekolah. Namun, kondisi kesehatannya belum memungkinkan.

Keluarga juga menyebut F masih mengalami kesulitan berbicara. Posisi lidahnya disebut agak masuk ke dalam sehingga kemampuan bicaranya terganggu.

Untuk mengetahui kondisi F, keluarga kemudian membawa dia menjalani pemeriksaan lebih lanjut. F diperiksa di poli psikiatri dan direncanakan mendapat penanganan dari dokter neurologi.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV Zulkarnain Barus mengatakan pihaknya telah memperoleh informasi mengenai kondisi F dari kepala sekolah. F juga disebut telah dibawa untuk menjalani pemeriksaan di RS Adam Malik Medan.

Pemeriksaan tersebut mencakup rencana electroencephalography (EEG) untuk mengevaluasi aktivitas listrik otak. Dinas Pendidikan juga terus berkoordinasi dengan pihak sekolah dan keluarga serta siap membantu memfasilitasi F kembali mengikuti kegiatan belajar jika kondisinya memungkinkan.

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan kondisi F masih dipantau dari sisi fisik maupun psikis. Pemerintah daerah menunggu hasil pemeriksaan medis, termasuk kondisi saraf dan aspek psikologis.

Di tengah penanganan kondisi F, pemeriksaan terhadap makanan MBG yang dikonsumsi para siswa juga menemukan kontaminasi bakteri. Berdasarkan pemeriksaan UPTD Laboratorium Kesehatan Sumut pada 16 Agustus 2026, sampel makanan dinyatakan positif mengandung Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli (E. coli).

Staphylococcus aureus juga ditemukan pada sampel muntahan salah satu korban.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono sebelumnya menyebut adanya dugaan kelalaian dalam pengelolaan bahan baku makanan. Berdasarkan investigasi sementara BGN, sekitar 200 hingga 300 ekor ikan disebut tidak dimasukkan ke dalam freezer dan berada pada suhu ruang selama sekitar 12 jam.

Sudaryono juga sempat menjenguk sejumlah siswa korban keracunan yang dirawat di RS Haji Medan, termasuk pasien yang berada di ICU.

Dalam perkembangan penanganan kasus, Koordinator Regional BGN Sumatra Utara Agung Kurniawan diganti dan posisinya diisi Yoga Aztrianto mulai 31 Agustus 2026. Tidak terdapat penjelasan resmi mengenai alasan pergantian tersebut.

Kondisi F kemudian mendapat perhatian anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi. Dia mendesak pemerintah melakukan audit total terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan MBG di Berastagi, Kabupaten Karo.

“Kasus di Berastagi, Karo ini sudah masuk kategori serius dan tidak boleh dianggap sebagai insiden biasa. Yang paling memprihatinkan adalah adanya anak yang sampai harus menjalani perawatan berulang dan dilaporkan mengalami gangguan ingatan,” kata Nurhadi, Rabu (9/9/2026).

Nurhadi meminta audit mencakup seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, distribusi, transportasi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.

“Harus dilakukan audit total terhadap SPPG, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, distribusi, transportasi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa,” ujarnya.

Dia juga meminta seluruh korban mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan secara tuntas, termasuk pemantauan dampak kesehatan jangka panjang. Menurut Nurhadi, penanganan tidak boleh berhenti setelah gejala akut menghilang.

“Pemerintah juga harus membuka hasil investigasi secara transparan kepada orang tua korban maupun masyarakat,” tegasnya.

Nurhadi menilai program MBG merupakan program pemerintah yang baik dan strategis, tetapi pelaksanaannya harus tetap mengutamakan keselamatan penerima manfaat.

“Lebih baik makanan terlambat diberikan daripada makanan yang tidak aman diberikan kepada anak-anak,” ungkapnya.