Ada Istilah untuk Kencan yang Tujuannya Cuma Makan Gratis

Ilustrasi Kencan/Pexels

Generasi.co, Jakarta – Sebanyak 30 persen orang dewasa di Amerika Serikat mengaku pernah menerima ajakan kencan terutama karena ingin mendapatkan makanan atau minuman gratis. Perilaku yang dikenal sebagai “foodie call” itu paling banyak dilaporkan Generasi Z dan milenial muda.

Temuan tersebut berasal dari survei DatingAdvice terhadap 1.016 orang dewasa di AS. Sebanyak 32 persen responden perempuan mengaku pernah menerima kencan terutama demi makanan atau minuman, dibandingkan 26 persen laki-laki.

Meski paling banyak dilaporkan kelompok usia muda, fenomena tersebut muncul di seluruh generasi. Sebanyak 26 persen responden berusia 65 tahun ke atas mengaku pernah melakukannya, sementara sedikitnya satu dari empat responden di setiap kelompok generasi memberikan jawaban serupa.

Istilah “foodie call” telah digunakan dalam pembahasan soal kencan selama bertahun-tahun. Salah satu bentuk istilah tersebut tercatat di Urban Dictionary sejak 2007. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Social Psychological and Personality Science kemudian mendefinisikannya sebagai menerima ajakan kencan meski tidak memiliki ketertarikan romantis dengan tujuan mendapatkan makanan gratis.

Namun, pakar hubungan menilai motivasi di balik foodie call tidak selalu sesederhana mencari makanan gratis. Alexandra Foglia, dokter terapi perkawinan dan keluarga, mengatakan perilaku tersebut berada dalam spektrum niat.

“Mulai dari ketertarikan tulus untuk mengenal orang lain hingga bersikap oportunistis,” kata Foglia.

Menurut dia, orang yang masih ragu terhadap ketertarikannya tetapi tetap tertarik bertemu sambil makan malam berbeda dengan seseorang yang sama sekali tidak memiliki ketertarikan romantis dan menerima ajakan hanya karena makanan mahal.

Erika Ettin, pelatih kencan, juga menilai temuan tersebut tidak otomatis menunjukkan kelompok muda lebih sering menerima kencan hanya demi makanan. Menurut dia, anak muda justru kerap lebih mempertimbangkan waktu mereka dan cenderung memilih kencan sederhana, seperti minum kopi.

Fenomena foodie call kembali menjadi pembahasan ketika biaya berkencan dan makan di luar rumah meningkat. BMO Financial Group melalui 2026 Real Financial Progress Index mencatat rata-rata pengeluaran warga AS mencapai 189 dolar AS untuk satu kali kencan jika biaya seperti perawatan diri dan transportasi ikut dihitung. Angka itu naik 12,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Setengah responden dalam survei BMO mengatakan kenaikan biaya membuat mereka mengurangi frekuensi berkencan atau memilih aktivitas yang lebih murah.

Harga makan di restoran juga meningkat. Harga restoran naik 3,4 persen secara tahunan pada Juli, berdasarkan data Bureau of Labor Statistics.

Beban tersebut dirasakan terutama oleh kelompok muda. Dalam survei BMO, sebanyak 50 persen responden Generasi Z dan 40 persen milenial mengatakan biaya berkencan menghambat mereka mencapai tujuan keuangan.

Penulis The Dating Reset, Nadia Edwards, menilai tekanan finansial dapat membuat makanan atau aktivitas yang ditawarkan menjadi pertimbangan lebih besar ketika seseorang memutuskan menerima ajakan kencan.

Foglia mengatakan restoran yang menarik juga dapat membuat seseorang bersedia bertemu ketika ketertarikan romantis masih belum pasti. Menurut dia, lokasi makan, menu degustasi, atau reservasi eksklusif dapat menjadi faktor yang mendorong dua orang yang masih ragu terhadap ketertarikan satu sama lain untuk bertemu.

Artinya, makanan atau pengalaman yang ditawarkan dapat menjadi bagian dari alasan seseorang menerima kencan, tanpa selalu menjadi satu-satunya alasan.

Val Bastien, pelatih kencan dan hubungan bersertifikat, membedakan foodie call berdasarkan posisi pengalaman makan dalam hubungan. Menurut dia, masalah muncul ketika pengalaman tersebut menggantikan ketertarikan terhadap orang yang mengajak berkencan.

“Masalahnya adalah ketika pengalaman itu menggantikan ketertarikan terhadap orang tersebut,” kata Bastien.

Ettin mengatakan dirinya tidak sering melihat orang menerima kencan semata-mata demi makanan. Namun, seseorang tetap dapat menghargai ketika pihak yang mengajak bersedia membayar biaya kencan.

Menurut Ettin, kebaikan tersebut terkadang disalahartikan sebagai sikap materialistis ketika kencan tidak berlanjut ke pertemuan kedua.