Generasi.co, Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menilai risiko kredit macet dari pembiayaan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) relatif rendah. Pasalnya, sumber pembayaran proyek tersebut berasal langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Head of Investor Relations BNI Yohan Setio mengatakan BNI bersama bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) ikut menyalurkan kredit untuk pembangunan KDMP yang digarap pemerintah melalui Agrinas.
Menurut Yohan, skema pembiayaan KDMP memiliki karakteristik berbeda dari kredit komersial. Salah satunya terlihat dari tingkat suku bunga yang ditetapkan sebesar 6%, lebih rendah dibandingkan rata-rata suku bunga kredit komersial BNI yang berada di kisaran 7%.
“Untuk proyek seperti ini, sumber pembayarannya akan datang dari APBN secara langsung. Sehingga profil risikonya secara teori menjadi sangat rendah,” kata Yohan dalam Public Expose Live, Rabu (9/9/2026).
Meski memberikan bunga lebih rendah, Yohan mengatakan pembiayaan proyek KDMP tetap memberikan keuntungan bagi bank-bank Himbara.
“Secara bottom line, secara profitabilitas, masih ada profit yang bisa dipetik oleh Bank Himbara. Tentunya ketika kita menjalankan proyek pemerintah, mencari profit bukan tujuan utama kita, kita balance antara profit yang wajar dan membangun negara,” ujarnya.
BNI mencatat penyaluran kredit mencapai sekitar Rp969 triliun hingga akhir semester I-2026. Kredit tersebut tumbuh 24% secara tahunan dan disalurkan ke segmen korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer.
Pada periode yang sama, BNI membukukan laba bersih Rp10,8 triliun atau tumbuh 5,94% secara tahunan. Kinerja tersebut didukung pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) sebesar 14,2% menjadi Rp22 triliun.
Manajemen BNI mengatakan pertumbuhan NII ditopang ekspansi kredit yang sehat dan struktur pendanaan yang tetap efisien.
Pendapatan berbasis komisi atau fee based income juga tumbuh 14,2% secara tahunan menjadi Rp9 triliun. Pertumbuhan tersebut berasal dari peningkatan pendapatan transaksi jasa retail banking dan business banking.
BNI juga mencatat laba inti atau Pre-Provisioning Operating Profit (PPOP) pada semester I-2026 sebagai yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.










