Dua Ilmuwan RI Torehkan Prestasi Nasional Melalui Inovasi Kesehatan dan Pangan Berbasis Kearifan Lokal dan Teknologi AI

Foto: Hasil penelitian dari dua peneliti Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Hery Sutanto, M.Si dan Aulia Arif Iskandar, S.T., M.T., memamerkan Kemirich Gold, minyak nabati hasil olahan kemiri yang dapat menjadi salah satu alternatif minyak sehat karya anak negeri, dan dua alat revolusioner yakni Dub-Dub Mini EKG dan Stetoskop Digital yang keduanya berbasis AI, secara langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto yang akhirnya terpilih menjadi produk inovasi nasional terbaik 2022–2025. (Istimewa)
Foto: Hasil penelitian dari dua peneliti Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Hery Sutanto, M.Si dan Aulia Arif Iskandar, S.T., M.T., memamerkan Kemirich Gold, minyak nabati hasil olahan kemiri yang dapat menjadi salah satu alternatif minyak sehat karya anak negeri, dan dua alat revolusioner yakni Dub-Dub Mini EKG dan Stetoskop Digital yang keduanya berbasis AI, secara langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto yang akhirnya terpilih menjadi produk inovasi nasional terbaik 2022–2025. (Istimewa)

Generasi.co, Jakarta – Dua peneliti Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Hery Sutanto, M.Si dan Aulia Arif Iskandar, S.T., M.T., kembali membuktikan karya anak bangsa mampu menjawab tantangan global melalui riset yang inovatif, aplikatif, dan berdampak luas.

Hasil penelitian keduanya terpilih jadi produk inovasi nasional terbaik 2022–2025, dan dipamerkan langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan jajaran menteri dalamnya Convention of Science, Technology, and Industry (STI) Indonesia 2025.

Kemiri Jadi Minyak Nabati Masa Depan Indonesia

Dr. Hery Sutanto mengembangkan Kemirich Gold, minyak nabati hasil olahan kemiri yang dapat menjadi salah satu alternatif minyak sehat karya anak negeri.

“Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa. Kemiri adalah salah satu tanaman lokal yang murah, melimpah, dan selama ini hanya dianggap pelengkap dapur.”

“Padahal, jika diolah dengan benar, kandungan nutrisinya bisa menyaingi minyak nabati impor,” ujar Dr. Hery, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Life Sciences and Technology Swiss German University.

Kemirich Gold mengandung Omega 3, Omega 6, Omega 9, DHA, EPA, LA, dan Vitamin E, yang secara ilmiah terbukti bermanfaat untuk kesehatan jantung orang dewasa, serta mendukung pertumbuhan balita dan anak-anak.

Produk ini juga telah tersertifikasi halal dan memiliki izin edar resmi dari BPOM RI.

Penelitian ini menjadi kontribusi nyata Dr. Hery dalam memaksimalkan potensi pangan lokal untuk ketahanan pangan nasional dan substitusi produk impor.

Inovasi Medis Canggih

Di bidang teknologi kesehatan, Aulia Arif Iskandar, S.T., M.T., Kepala Program Studi Biomedical Engineering di Swiss German University, menciptakan dua alat revolusioner: Dub-Dub Mini EKG dan Stetoskop Digital yang keduanya berbasis AI.

Berangkat dari keprihatinan terhadap akses terbatas masyarakat terhadap deteksi dini penyakit jantung dan paru-paru, ia mengembangkan solusi cerdas yang portabel, terjangkau, dan berbasis teknologi terkini.

Dub-Dub Mini EKG adalah alat elektrokardiogram 1-lead yang mampu mendeteksi irama jantung abnormal secara real-time dan mengirimkan data ke aplikasi ponsel melalui Bluetooth.

Aplikasi ini memiliki fitur emergency alert dan telekonsultasi, memberikan akses lebih cepat dan aman kepada pasien untuk penanganan awal.

Sementara itu, Stetoskop Digital Berbasis AI dirancang untuk menganalisis suara paru-paru, bukan sekadar mendengarkannya.

Dengan memanfaatkan machine learning, alat ini mampu mengklasifikasi penyakit paru berdasarkan pola suara pernapasan yang terekam, menjadikannya asisten diagnostik digital bagi tenaga medis.

Kedua alat ini telah memperoleh penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI, termasuk sebagai alat terbaik ke-2 kategori inovasi alkes pada 2019 dan Produk Riset Alkes Unggulan Pertama 2024, menegaskan potensi besar teknologi lokal dalam sistem layanan kesehatan nasional.

Ilmuwan yang Berkarya untuk Negeri

Rektor Swiss German University, Assoc. Prof. Dr. Dipl.-Ing. Samuel P. Kusumocahyo, sampaikan apresiasi mendalam terhadap capaian dua dosen tersebut.

“Inovasi yang dikembangkan Dr. Hery dan Pak Aulia adalah bukti bahwa riset di perguruan tinggi tidak hanya untuk jurnal.” katanya.

“Akan tetapi juga untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Ini bukan sekadar prestasi individu, tapi kontribusi langsung untuk bangsa dan masa depan yang lebih baik.” ungkapnya.

Baik Dr. Hery maupun Aulia Arif memiliki satu kesamaan: semangat besar untuk menjawab persoalan bangsa melalui ilmu pengetahuan.

Karya mereka telah menembus batas akademik dan mulai memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Tujuan utama saya bukan sekadar menciptakan teknologi canggih, tapi menciptakan teknologi yang bermanfaat dan bisa diakses masyarakat luas, terutama di daerah dengan keterbatasan layanan kesehatan,” ungkap Aulia.

Kehadiran mereka di Convention STI 2025 menjadi bukti Indonesia tidak kekurangan talenta unggul.

Selain itu, yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan dan dukungan lebih luas agar riset dan inovasi lokal bisa terus berkembang dan memberi dampak besar bagi negeri ini. (BAS)