Generasi.co, Jakarta – Di tengah perbedaan bahasa dan budaya, selalu ada cara untuk saling memahami.
Bagi Swiss German University (SGU), cara itu diwujudkan melalui pendidikan internasional yang bukan hanya menghubungkan mahasiswa dengan ilmu pengetahuan.
Akan tetapi juga mempertemukan mereka dengan cerita, rasa, dan harmoni yang tumbuh dari interaksi lintas bangsa.
Menurut Assoc. Prof. Dr. Dipl-Ing. Samuel P. Kusumocahyo selaku Rektor SGU, sejak berdiri pada tahun 2000, SGU memang dikenal sebagai pionir universitas internasional di Indonesia.
Berawal dari jejaring dengan mitra akademik di Jerman dan Swiss, kini kerja sama itu merambah hingga Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan.
Dari sini, mahasiswa Indonesia punya kesempatan belajar ke luar negeri, sementara mahasiswa asing juga datang untuk merasakan pengalaman belajar di Indonesia.
Setiap tahun, belasan hingga puluhan mahasiswa dari Jerman mengikuti program pertukaran pelajar di SGU.
Mereka bukan hanya mengikuti perkuliahan, tetapi juga diajak menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Dari situlah lahir momen-momen berharga yang tak bisa digambarkan hanya dengan angka atau sertifikat.
Tahun 2024 lalu, misalnya, para mahasiswa Jerman diajak ke Puspo Budoyo.
Mereka belajar tari tradisional, mencoba membuat kain jumputan, hingga memainkan gamelan.
Meski awalnya canggung, perlahan irama gamelan justru menyatukan mereka dalam tawa dan rasa ingin tahu.
Di sela aktivitas itu, nasi tumpeng disajikan sebagai kejutan.
Bagi mereka, tumpeng bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan yang membuat jarak budaya seakan menghilang.
Momen ketika mahasiswa asing dan lokal duduk melingkar, menyendok nasi kuning dari puncak tumpeng, menjadi bahasa persahabatan yang tak perlu diterjemahkan.
Perjalanan hari itu diakhiri dengan mengenal kopi Nusantara di Ardor Coffee, ketika secangkir kopi hangat menjadi medium bercerita tentang tanah, tradisi, dan cita rasa Indonesia.
Cerita berlanjut pada September 2025.
Kali ini, pengalaman budaya difokuskan pada musik angklung.
Setiap mahasiswa hanya memegang satu atau dua nada, tetapi ketika dimainkan bersama, lahirlah harmoni yang indah.
Dari angklung, mereka belajar bahwa perbedaan justru memperkaya, karena harmoni tak mungkin tercipta bila semua memainkan nada yang sama.
Selain itu, mereka mencoba membuat kerajinan tangan eco-pounding di Bengkel Kreatif Hello Indonesia, memukul serat alam hingga menjadi karya seni yang sederhana namun bermakna.
Tak hanya itu, mereka diajak berkeliling Jakarta untuk melihat landmark yang sarat simbol toleransi dan sejarah.
Dari Masjid Istiqlal yang berdiri megah di seberang Gereja Katedral, hingga Monumen Nasional yang menjulang di pusat kota, setiap kunjungan menambah lapisan pemahaman mereka tentang Indonesia.
Perjalanan ke Pecinan Jakarta membawa mereka pada jejak multikultural yang sudah berakar ratusan tahun, sementara di kawasan Kota Tua mereka menyaksikan bangunan kolonial, kerajinan wayang, hingga mencicipi jamu tradisional yang menjadi warisan tak ternilai.
Dari nasi tumpeng hingga gamelan, dari angklung hingga jamu tradisional, semua pengalaman itu menjadi bahasa persahabatan yang menyatukan mahasiswa dari latar belakang berbeda.
Bagi SGU, inilah esensi pendidikan internasional yang sebenarnya: bukan hanya tentang perkuliahan di ruang kelas, melainkan juga tentang merayakan keberagaman dan menumbuhkan rasa saling menghargai.
Di tengah arus globalisasi, SGU terus membuktikan dirinya bukan sekadar kampus berstandar internasional, tetapi juga jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.
Dari ruang belajar hingga pusat budaya, SGU menghadirkan pengalaman yang membuat setiap mahasiswa lokal maupun asing pulang dengan lebih dari sekadar ilmu, tetapi juga cerita, persahabatan, dan kenangan yang melekat seumur hidup.










