Kredit Investasi Tumbuh 25%, Ini Cara BNI Pantau Debitur

Likuiditas dan Permodalan Kokoh, BRI Perkuat Kontribusi bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional/Ist.

Generasi.co, Jakarta – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat kredit investasi tumbuh 25% secara tahunan hingga Juni 2026. Pertumbuhan tersebut dinilai menunjukkan dunia usaha masih memiliki minat kuat untuk melakukan ekspansi.

Head of Investor Relation BNI Yohan Setio mengatakan kredit investasi umumnya digunakan perusahaan untuk melakukan ekspansi atau masuk ke bisnis baru. Pertumbuhan kredit BNI terutama berasal dari sektor yang berkaitan dengan sumber daya alam (SDA) dan bisnis turunannya, sejalan dengan perkembangan proyek hilirisasi produk pertambangan dan pertanian.

Sektor data center juga menjadi salah satu sumber pertumbuhan bisnis baru BNI, baik di Indonesia maupun sejumlah negara lain.

“Kalau kredit investasi berarti mereka masih melakukan ekspansi atau masuk ke bisnis baru,” ujar Yohan dalam paparan publik BNI, Rabu (9/9/2026).

Pertumbuhan kredit investasi tersebut, menurut Yohan, masih didominasi perusahaan papan atas atau blue chip corporate. Kondisi itu menjadi salah satu pertimbangan BNI dalam menyalurkan kredit karena kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban pembayaran dinilai masih kuat.

Meski kredit investasi memiliki tenor panjang, mulai lima tahun hingga 15 tahun, BNI tetap memantau kemampuan bayar debitur. Dalam proses pemberian kredit, perseroan menerapkan prinsip 4C, yakni character, capacity, capital, dan condition, serta mempertimbangkan collateral atau agunan.

Dari sisi character, BNI menilai rekam jejak pengusaha dan perusahaan sebelum memberikan fasilitas kredit. Capacity digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban pembayaran.

“Tim analisa kredit kami sudah memiliki spesialisasi kredit per sektor industri yang mendalam untuk meminimalisasi risiko kita salah melakukan forecasting dalam pemberian kredit,” kata Yohan.

BNI juga memperhatikan struktur permodalan debitur, termasuk rasio debt to equity, untuk memastikan nasabah tidak menggunakan utang dalam jumlah yang terlalu besar dibandingkan modal yang dimiliki.

Untuk aspek condition, BNI menilai kondisi bisnis dan iklim usaha dalam jangka panjang. Perseroan memperbarui sector guidance secara berkala untuk menentukan sektor industri yang menjadi fokus penyaluran kredit maupun sektor yang perlu direm.

Analisis tersebut dilakukan secara granular berdasarkan wilayah karena prospek ekonomi setiap provinsi maupun pulau berbeda.

Selain analisis ketika kredit diberikan, BNI memantau aktivitas bisnis debitur secara berkelanjutan. Salah satu indikator yang digunakan adalah aktivitas transaksi nasabah melalui layanan BNI Direct.

Yohan mengatakan ketika kredit investasi tumbuh sekitar 25% secara tahunan, pertumbuhan giro dari nasabah wholesale justru hampir dua kali lipat secara tahunan. Pertumbuhan giro tersebut juga lebih kuat dibandingkan pertumbuhan kredit.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan debitur tidak hanya mengambil kredit dari BNI, tetapi juga aktif menggunakan layanan transaksi BNI Direct untuk pembelian bahan baku, pembayaran gaji karyawan, hingga penerimaan pembayaran piutang dari pelanggan.

“Dengan kata lain sebagai perbankan yang memberi kredit kita bisa memonitor aktivitas bisnis nasabah secara real cash flow mereka, tidak hanya mengandalkan laporan keuangan,” ujar Yohan.

Melalui transaksi tersebut, BNI dapat memantau arus kas perusahaan secara lebih aktual berdasarkan aktivitas bisnis yang dilakukan nasabah di platform BNI Direct.