Perjalanan haji dipenuhi dengan pelajaran dan nasihat yang menyentuh hati, membisik ke dalam nurani, menyentuh perasaan, dan menggerakkan akal. Seorang yang berhaji tidak akan meraih ganjaran agungnya kecuali ia memahami, mempelajari, dan merenungkan seluruh pelajaran serta hikmah yang terkandung di dalamnya. Berikut adalah beberapa di antaranya:
Pertama: Ketundukan dan Kepasrahan Total kepada Allah, Tuhan Semesta Alam
Ini adalah pelajaran pertama yang dipetik oleh seorang jamaah haji. Sejak memasuki ihram hingga seluruh rangkaian manasik, seorang hamba sepenuhnya tunduk kepada perintah Allah. Kepasrahan ini tampak ketika seorang hamba menaati perintah Allah meski tidak sesuai dengan keinginannya. Ia menyerahkan dirinya kepada aturan Allah sebagaimana mayat yang pasrah kepada orang yang memandikannya, bahkan lebih dari itu.
Seorang Muslim melaksanakan manasik dengan penuh ketundukan, menyadari bahwa kepasrahan total adalah syarat diterimanya ibadah haji. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mencium Hajar Aswad dan berkata:
“Aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak dapat memberi mudarat atau manfaat. Jika aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.”
[Al-Bukhari]
Diriwayatkan pula bahwa ketika ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menyentuh Hajar Aswad, beliau berdoa:
“Ya Allah, aku menyentuhnya karena iman kepada-Mu, bukan kepada batu; karena percaya pada Kitab-Mu, bukan kepada mitos; karena memenuhi janji kepada-Mu, bukan kepada selain-Mu; dan karena mengikuti Sunnah Nabi-Mu, bukan sunnah siapa pun.”
Keimanan yang benar mensyaratkan tunduk kepada perintah Allah, mematuhi syariat-Nya, dan menjadikan hukum-Nya sebagai rujukan. Allah berfirman (yang artinya):
{Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau (wahai Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.}
[QS. An-Nisa: 65]
Kepasrahan kepada syariat Allah bukanlah amalan sunah tambahan, tetapi inti ibadah dan hakikat penghambaan. Inilah perbedaan mendasar antara seorang mukmin dan selainnya.
Dr. Yusuf Al-Qaradhawi rahimahullah menjelaskan bahwa:
Seorang mukmin membebaskan dirinya dari penghambaan kepada hawa nafsu atau makhluk untuk hanya menjadi hamba Allah. Ia meninggalkan ketaatan kepada keinginannya sendiri untuk taat kepada Allah. Ia tidak berjalan menurut kehendaknya, melainkan memegang janji, mengikuti aturan, dan meniti manhaj Allah. Semua ini adalah konsekuensi logis dari akad iman.
Konsekuensi akad iman:
- Menyerahkan seluruh urusan hidup kepada Allah, sehingga Rasul-Nya memimpinnya dan wahyu-Nya membimbingnya.
- Allah berfirman, “Aku perintahkan … Aku larang,” dan hamba berkata, “Aku dengar dan taat.”
- Ia membebaskan dirinya dari tunduk kepada hawa nafsu menuju tunduk sepenuhnya kepada syariat Allah.
Inilah sikap seorang Muslim selama melaksanakan haji:
- Allah berfirman: “Tinggalkan keluargamu,” ia berkata: “Ya.”
- Allah berfirman: “Tinggalkan negerimu,” ia berkata: “Ya.”
- Allah berfirman: “Tanggalkan pakaian duniamu,” ia berkata: “Ya.”
- Allah berfirman: “Bertawaflah tujuh kali,” ia berkata: “Ya.”
- Allah berfirman: “Sa’i tujuh kali,” ia berkata: “Ya.”
- Allah berfirman: “Sembelih hadyu,” ia berkata: “Ya.”
- Allah berfirman: “Cukurlah rambutmu,” ia berkata: “Ya.”
Inilah puncak ketundukan kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Kedua: Membangun Hati yang Sadar dan Nurani yang Hidup
Ritual Islam bertujuan membentuk hati yang hidup, nurani yang peka, dan jiwa yang bersih. Inilah tujuan tertinggi dari Islam secara keseluruhan. Ia mendorong seorang Muslim untuk selalu merasa diawasi Allah baik ketika sendirian maupun saat berada di tengah manusia.
Allah berfirman (yang artinya):
{Dan rahasiakanlah ucapanmu atau nyatakanlah; sungguh, Dia Maha Mengetahui isi hati. Bukankah Dia yang menciptakan mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.}
[QS. Al-Mulk: 13–14]
Ayat ini menegaskan bahwa hati seorang mukmin harus selalu hidup, nuraninya harus senantiasa terjaga.
Inilah makna ihsan sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“(Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
[Al-Bukhari dan Muslim]
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dididik dengan konsep kesadaran ilahiah ini. Kisah Ma’iz dan Al-Ghamidiyyah menunjukkan betapa kuatnya hati mereka dalam mengakui dosa dan kembali kepada Allah tanpa paksaan.
Ada kisah indah ketika ‘Umar radhiyallahu ‘anhu sedang dalam perjalanan. Abdullah bin Dinaar meriwayatkan:
Seorang gembala turun dari gunung. Umar berkata, “Wahai gembala, juallah seekor kambing kepadaku.” Ia menjawab, “Aku hanyalah seorang budak.” Umar berkata, “Katakan saja kepada tuanmu bahwa seekor serigala memakannya.”
Gembala itu menjawab, “Lalu di mana Allah?”
Umar menangis, membeli budak itu dari tuannya, membebaskannya, dan berkata, “Kalimat ini membebaskanmu di dunia, dan aku berharap ia juga menyelamatkanmu di akhirat.”
Kesadaran ini tampak jelas dalam haji. Allah berfirman (yang artinya):
{(Musim) haji adalah beberapa bulan yang telah maklum. Barangsiapa menetapkan niat haji dalam bulan itu, maka tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat fasik, dan tidak boleh bertengkar selama haji. Dan apa pun kebaikan yang kamu lakukan, Allah mengetahuinya. Dan berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.}
[QS. Al-Baqarah: 197]
Tidak ada polisi atau penjaga yang memantau. Yang menjaga adalah hati dan rasa takut kepada Allah.
Di tengah tawaf yang sesak, ketika tubuh bersentuhan, hati yang hidup menjaga diri dari godaan setan dan bisikan hawa nafsu. Inilah pendidikan nurani melalui haji.
Ketiga: Menumbuhkan Tekad dan Menguatkan Mental
Pujian terbaik untuk pasukan Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu adalah:
“Jika mereka menghendaki untuk mencabut gunung dari tempatnya, mereka mampu melakukannya.”
Ini menggambarkan kekuatan tekad dan keteguhan jiwa.
Haji adalah sarana terbesar untuk menumbuhkan kekuatan mental seorang Muslim.
Betapa tidak?
Seorang jamaah meninggalkan kampung halaman, keluarga, rumah, dan hartanya. Ia menempuh perjalanan yang pada hakikatnya tetap berisiko, meski hidup di abad ke-21. Mobil bisa kecelakaan, kapal bisa tenggelam, pesawat bisa jatuh, tenda bisa terbakar, terowongan bisa sesak, dan jamaah bisa terinjak.
Namun tekadnya semakin bulat dan semangatnya semakin tinggi.
Allah juga menjadikan Makkah sebagai negeri yang tandus, bukan tempat yang nyaman bagi musim panas atau musim dingin. Jalan-jalannya menembus gunung, rumahnya dipahat dari gunung. Setiap langkah naik dan turun.
Haji juga dihubungkan dengan bulan-bulan hijriah, sehingga kadang dilakukan pada musim panas yang terik dan kadang pada musim dingin yang dingin. Semua ini membentuk ketahanan dan kekuatan jiwa.
Dari sini kita memahami bahwa Islam bukan agama ketidakberdayaan atau kemalasan. Islam adalah agama perjuangan. Karena itu, haji disebut sebagai jihad fi sabilillah, bahkan jihad terbaik bagi wanita.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Wahai Rasulullah, kami melihat jihad adalah amal yang paling utama. Apakah kami (para wanita) tidak boleh ikut berjihad?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Tidak. Jihad terbaik bagi kalian adalah haji yang diterima.”
[Al-Bukhari]










