Hampir separuh pemuda lajang di Jepang berusia 18 hingga 34 tahun mengaku belum pernah melakukan hubungan seksual. Temuan itu terungkap dalam survei yang dilakukan Japan Family Planning Association (JFPA) dan menjadi salah satu gambaran perubahan pola hubungan, pernikahan, dan kehidupan keluarga di Negeri Sakura.
Survei yang dilakukan pada Oktober-November 2016 terhadap 3.000 pria dan perempuan berusia 16-49 tahun itu menunjukkan 42 persen pria lajang usia 18-34 tahun serta 46 persen perempuan lajang pada kelompok usia yang sama belum pernah berhubungan seksual.
Bahkan pada kelompok usia yang lebih tua, yakni 30-34 tahun, angka tersebut masih tergolong tinggi. Sebanyak 34,8 persen pria lajang dan 47,2 persen perempuan lajang mengaku belum pernah melakukan hubungan seksual.
Temuan lain menunjukkan mayoritas responden muda sebenarnya masih memiliki keinginan untuk menikah. Dari 342 responden lajang usia 18-34 tahun, sebanyak 83,9 persen menyatakan ingin menikah, sementara 8,5 persen mengaku tidak memiliki keinginan tersebut.
Meski demikian, minat menikah mulai menurun pada kelompok usia yang lebih dewasa. Di rentang usia 30-34 tahun, sebanyak 15,2 persen pria dan 19,4 persen perempuan menyatakan tidak ingin menikah.
Survei juga menemukan fenomena meningkatnya pasangan menikah yang tidak lagi aktif secara seksual. Dari 655 responden yang telah menikah, sebanyak 47,2 persen masuk kategori “sexless” atau tidak melakukan hubungan seksual setidaknya selama satu bulan sebelum survei dilakukan.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak survei serupa pertama kali dilakukan pada 2004. Persentasenya naik 2,6 poin dibandingkan survei tahun 2014 dan meningkat 15,3 poin dibandingkan hasil survei perdana.
Secara rinci, 47,3 persen pria menikah dan 47,1 persen perempuan menikah mengaku tidak melakukan hubungan seksual dalam sebulan terakhir.
Bagi pria menikah, alasan yang paling banyak dikemukakan adalah kelelahan akibat pekerjaan. Sebanyak 35,2 persen responden pria menyatakan terlalu lelah bekerja sehingga tidak tertarik melakukan hubungan seksual.
Alasan lain yang muncul adalah memandang pasangan sebagai anggota keluarga, bukan lagi pasangan romantis, serta menurunnya minat setelah memiliki anak.
Sementara itu, alasan yang paling banyak dikemukakan perempuan adalah karena hubungan seksual dianggap merepotkan. Sebanyak 22,3 persen responden perempuan memilih alasan tersebut.
Selain itu, 20,1 persen perempuan mengaku kehilangan minat setelah melahirkan, sedangkan 17,4 persen menyebut kelelahan akibat pekerjaan sebagai penyebab utama.
Direktur JFPA Kitamura Kunio, sebagaimana dikutip melalui Nippon.com, mengatakan tren pasangan tanpa hubungan seksual terus meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda melambat.
“Saat pria dan perempuan tidak berupaya cukup untuk berkomunikasi satu sama lain dan gagal mempertahankan sikap positif terhadap hubungan seksual, maka tren hubungan tanpa seks akan semakin memburuk,” ujar Kitamura.
Survei juga mencatat rata-rata usia pertama kali melakukan hubungan seksual di Jepang berada pada usia 19 tahun, dengan perbedaan yang sangat kecil antara pria dan perempuan.
Mayoritas responden yang telah memiliki pengalaman seksual mengaku pertama kali melakukannya pada usia 18 hingga 20 tahun, dengan proporsi mencapai 42 persen. Sebanyak 25 persen mengaku pertama kali berhubungan seksual pada usia 15 hingga 17 tahun, sementara 12,3 persen pada usia 21 hingga 24 tahun.










