Kematian Akibat Flu Meningkat di AS, Varian Baru Picu Lonjakan Kasus

Virus/Pexels

Jumlah kematian akibat influenza di Amerika Serikat dilaporkan terus meningkat seiring melonjaknya kasus flu pada musim 2025–2026. Otoritas kesehatan setempat mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama di tengah rendahnya angka vaksinasi.

Berdasarkan estimasi terbaru Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hingga akhir Desember tercatat lebih dari 7 juta kasus flu di AS. Dari jumlah tersebut, sekitar 81.000 pasien harus dirawat di rumah sakit, sementara 3.100 orang meninggal dunia akibat komplikasi influenza.

CDC mencatat lonjakan tajam terjadi pada pekan yang berakhir 20 Desember, dengan 19.053 kasus rawat inap terkait flu, meningkat lebih dari 9.000 kasus dibandingkan pekan sebelumnya. Tren kematian akibat influenza juga dilaporkan terus naik dari minggu ke minggu.

Korban anak turut menjadi sorotan. Dalam dua pekan terakhir Desember, terdapat lima kematian anak akibat flu, sehingga total kematian pediatrik pada musim flu 2025–2026 kini mencapai delapan kasus.

“Aktivitas influenza musiman saat ini berada pada level tinggi dan terus meningkat di berbagai wilayah Amerika Serikat,” tulis CDC dalam laporan resminya.

Varian H3N2 Subclade K Dominan

Mayoritas kasus flu yang dilaporkan musim ini disebabkan oleh varian Influenza A (H3N2) yang dikenal sebagai subclade K. Varian ini pertama kali terdeteksi di Australia pada pertengahan tahun dan kini menyebar luas di AS.

Ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Andrew Pekosz, mengatakan lonjakan besar hampir selalu terjadi di wilayah yang mulai mendeteksi varian tersebut.

“Waktunya tidak jauh berbeda dari musim flu lain, tetapi jumlah kasus dan kecepatan peningkatannya tidak lazim untuk periode ini,” ujarnya.

Pekosz menambahkan komunitas medis masih belum mengetahui kapan tren kenaikan ini akan mencapai puncaknya, yang menjadi sumber kekhawatiran utama para tenaga kesehatan.

Sementara itu, Florian Krammer, virologi dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, menjelaskan bahwa subclade K tidak terbukti lebih ganas dibandingkan strain flu lain. Namun, imunitas manusia terhadap varian ini dinilai lebih lemah dibandingkan flu musiman sebelumnya.

Vaksin Tetap Direkomendasikan

Meski muncul kekhawatiran efektivitas vaksin karena varian baru ini terdeteksi setelah formulasi vaksin dibuat, data awal dari Inggris menunjukkan vaksin flu tahun ini tetap memberikan perlindungan yang sebanding dengan musim-musim sebelumnya, terutama dalam mencegah penyakit berat dan rawat inap.

Namun, tingkat vaksinasi masih menjadi persoalan. CDC mencatat hanya sekitar 42,2 persen warga AS yang telah menerima vaksin flu hingga pertengahan Desember.

Pejabat CDC menegaskan vaksinasi tetap relevan dilakukan meski musim flu sudah berjalan.

“Masih belum terlambat untuk mendapatkan vaksin flu jika belum melakukannya,” kata Lisa Grohskopf, pejabat medis di divisi influenza CDC.

Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi, menjaga kebersihan, dan mewaspadai gejala flu, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis.