Generasi.co, SYDNEY – Influencer Muslim asal Australia, Lily Jay Hinson, menjadi sorotan setelah investigasi ABC News Verify mengungkap dugaan penggunaan konten berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam materi publikasi Lily Jay Foundation. Yayasan yang selama ini dikenal aktif menggalang bantuan untuk komunitas Muslim di berbagai negara itu kini dipertanyakan kredibilitas sejumlah klaim kegiatannya.
Lily Jay, yang memiliki hampir tiga juta pengikut di Instagram, dikenal luas setelah membagikan perjalanan hijrahnya menjadi mualaf. Dalam beberapa tahun terakhir, ia rutin mengunggah aktivitas pembagian bantuan kepada masyarakat di Gaza, Uganda, Nepal, dan Sudan melalui yayasan yang didirikannya.
Namun, hasil investigasi ABC News Verify menemukan sejumlah video yang diklaim memperlihatkan kegiatan kemanusiaan tersebut diduga dibuat menggunakan teknologi AI.
Salah satu video memperlihatkan sosok yang disebut sebagai Lily Jay berdiri bersama anak-anak Afrika sambil mengumumkan pembukaan panti asuhan.
“Alhamdulillah! Panti asuhan kini sudah dibuka!” demikian narasi dalam video tersebut.
Menurut analisis ABC, perempuan dalam video itu bukan Lily Jay yang sebenarnya, melainkan hasil rekayasa AI. Anak-anak yang muncul di latar belakang hingga spanduk bertuliskan Lily Jay Foundation juga disebut sebagai objek digital.
Temuan serupa juga ditemukan pada video yang diklaim direkam di Gaza. Dalam video itu tampak relawan menggunakan atribut Lily Jay Foundation saat membagikan makanan kepada anak-anak. Video lain memperlihatkan Lily Jay berada di depan truk bantuan, namun logo yayasan dan bendera Palestina pada kendaraan tersebut menunjukkan distorsi visual yang disebut sebagai indikasi penggunaan AI.
Selain menyoroti konten visual, investigasi juga mempertanyakan sejumlah klaim yayasan. Lily Jay Foundation menyatakan telah membangun masjid, menyalurkan bantuan kemanusiaan, serta menyediakan pendidikan di berbagai negara. Sebelum diperbarui, situs resminya juga membuka penggalangan donasi, namun halaman tersebut kini telah dihapus.
ABC News Verify juga melaporkan bahwa Uganda Registration Services Bureau pada awalnya tidak menemukan panti asuhan yang terdaftar atas nama Lily Jay Foundation maupun “Ada Nur”, nama yang digunakan yayasan tersebut di situs resminya.
Kontroversi turut menyasar klaim penghargaan kemanusiaan yang diumumkan pada Mei 2026. Dalam siaran pers, Lily Jay menyatakan, “Saya merasa terhormat atas penghargaan ini, tetapi fokus kami tetap pada ketahanan keluarga-keluarga di Gaza.”
Ia juga mengatakan, “Misi kami adalah membuktikan bahwa tindakan individu dapat menjadi penyelamat bagi mereka yang terabaikan oleh sistem global.”
Namun, ABC menyebut gambar yang digunakan dalam pengumuman penghargaan itu mengandung tanda air SynthID milik ChatGPT yang menunjukkan gambar tersebut dibuat menggunakan teknologi AI. Penghargaan itu juga disebut tidak ditemukan di luar publikasi Lily Jay Foundation maupun perusahaan Real Media Group.
Status hukum yayasan tersebut turut menjadi perhatian. Berdasarkan data Australian Charities and Not-for-profits Commission (ACNC), Lily Jay Foundation tidak terdaftar sebagai badan amal resmi di Australia.
Juru bicara ACNC mengimbau masyarakat agar memverifikasi status organisasi sebelum menyalurkan donasi.
“Kami menyarankan masyarakat memastikan kredibilitas suatu organisasi dengan memeriksa ACNC Charity Register sebelum berdonasi,” kata juru bicara ACNC.
Pada bagian bawah situs resminya, Lily Jay Foundation menjelaskan bahwa mereka bukan badan amal, melainkan perusahaan sosial yang bergerak di bidang logistik kemanusiaan dan beroperasi sebagai entitas komersial swasta. Yayasan itu juga menyebut donasi yang diterima saat ini tidak dapat dikurangkan dari pajak.
Hingga laporan ini disusun, Lily Jay Foundation belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi terkait hasil investigasi tersebut.










