Wakil Menteri Luar Negeri Polandia Władysław Teofil Bartoszewski mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengundang Menteri Luar Negeri RI Sugiono untuk melakukan kunjungan resmi ke Polandia pada tahun mendatang. Undangan ini disampaikan sebagai langkah memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Dalam sesi temu media di Kedutaan Besar Polandia di Jakarta, Kamis (13/11/2025), Bartoszewski mengatakan undangan itu pertama kali ia sampaikan ketika bertemu Wamenlu RI Arif Havas Oegroseno.
“Saya telah mengundang Wamenlu RI untuk berkunjung ke Polandia tahun depan, guna mempersiapkan kunjungan Menteri Luar Negeri Indonesia ke Polandia,” ujarnya.
Dorong Konsultasi Politik Tingkat Tinggi
Bartoszewski berharap Menlu Sugiono dapat memenuhi undangan tersebut. Ia menilai kunjungan tingkat tinggi akan menjadi momentum penting untuk menggelar konsultasi politik komprehensif lintas sektor, mulai dari politik–keamanan hingga kerja sama akademik.
Menurutnya, hubungan Indonesia–Polandia selama ini berkembang positif, namun masih menyisakan banyak potensi yang belum dimaksimalkan.
“Kami tidak mengeluhkan kerja sama yang sudah berjalan. Namun dengan kemajuan pesat kedua negara selama 30 tahun terakhir, seharusnya kita bisa lebih dekat lagi,” katanya.
Nilai Dagang Masih Rendah
Salah satu perhatian Polandia adalah nilai perdagangan bilateral yang dinilai masih jauh dari potensi maksimal. Nilai perdagangan Indonesia–Polandia tercatat berada di bawah 2 miliar dolar AS per tahun, angka yang dianggap kecil jika dibandingkan dengan populasi Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa.
Selain sektor ekonomi, Polandia juga menyoroti minimnya jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di negara tersebut.
“Saat ini jumlah mahasiswa Indonesia di Polandia masih puluhan orang. Kami ingin angka ini meningkat signifikan,” ujar Bartoszewski.
Sejarah Serupa, Peluang Besar
Ia menambahkan, meski secara geografis kedua negara berjarak jauh, Indonesia dan Polandia memiliki kesamaan sejarah perjuangan dan semangat pembangunan.
“Polandia pernah menjadi negara miskin, sama seperti Indonesia di masa lalu. Kini kami sama-sama tumbuh menjadi negara yang kuat, dan kerja sama ini bisa membawa manfaat besar bagi kedua pihak,” tutupnya.










