Brussels, Generasi.co — Era ponsel pintar dengan baterai “tanam” yang sulit diperbaiki tampaknya segera berakhir. Mulai Februari 2027 mendatang, Uni Eropa (UE) akan memberlakukan aturan baru yang mewajibkan seluruh produsen perangkat elektronik, termasuk smartphone dan tablet, untuk menggunakan desain baterai yang bisa dilepas pasang secara mandiri oleh konsumen.
Regulasi ini merupakan bagian dari kebijakan besar ‘Right to Repair’ (Hak untuk Memperbaiki) yang dirancang untuk memperpanjang usia pakai perangkat sekaligus menekan angka limbah elektronik global yang kian mengkhawatirkan.
Bukan Sekadar Desain “Jadul”
Meski mewajibkan fitur lepas pasang, aturan ini tidak lantas memaksa produsen kembali ke desain ponsel tahun 2000-an dengan penutup belakang plastik yang bisa langsung dicongkel.
Uni Eropa menetapkan standar teknis yang lebih spesifik: baterai harus bisa diganti oleh konsumen tanpa memerlukan alat khusus. Jika pembongkaran membutuhkan alat tertentu, produsen wajib menyediakannya secara gratis di dalam paket pembelian. Ini artinya, produsen harus membuang penggunaan lem perekat yang berlebihan di dalam bodi ponsel dan menggantinya dengan mekanisme sekrup atau pengait yang lebih ramah pengguna.
Alasan Utama: Ekonomi dan Lingkungan
Setidaknya ada tiga pilar utama yang mendasari kebijakan drastis ini:
- Mengatasi Degradasi Baterai: Baterai sering kali menjadi komponen pertama yang rusak, memaksa konsumen membeli HP baru meski mesin ponsel masih berfungsi baik.
- Limbah Elektronik: Dengan kemudahan penggantian baterai, jumlah sampah elektronik dari perangkat yang dibuang prematur diharapkan berkurang signifikan.
- Hak Konsumen: Memberikan kebebasan bagi pengguna untuk merawat perangkatnya sendiri tanpa harus bergantung pada pusat servis resmi yang sering kali mahal.
Celah untuk Apple: Standar 1.000 Siklus
Menariknya, tidak semua ponsel harus tunduk pada aturan ini. Terdapat pengecualian bagi perangkat yang memiliki kualitas baterai “badak”. Perangkat yang mampu mempertahankan kapasitas minimal 80 persen setelah 1.000 siklus pengisian daya diizinkan untuk tetap menggunakan desain baterai tanam.
Raksasa teknologi Apple kemungkinan besar akan memanfaatkan celah ini. Dokumen resmi perusahaan menyatakan bahwa lini iPhone 15 ke atas sudah memenuhi standar 1.000 siklus tersebut. John Ternus, calon CEO Apple, sebelumnya menekankan bahwa daya tahan produk secara keseluruhan lebih penting daripada sekadar kemudahan bongkar pasang.
Dampak Global: Samsung Galaxy S27 Jadi Pionir?
Meskipun aturan ini hanya berlaku di daratan Eropa, para pengamat teknologi memprediksi dampaknya akan terasa secara global, termasuk di Indonesia. Produsen seperti Samsung atau Xiaomi kemungkinan besar tidak akan membuat dua lini desain yang berbeda untuk pasar yang berbeda demi efisiensi produksi massal.
Artinya, perangkat masa depan seperti Samsung Galaxy S27 yang dijadwalkan meluncur tahun depan bisa jadi akan menjadi salah satu ponsel pertama yang mengadopsi standar desain baru ini secara global. Tak hanya HP, konsol genggam seperti Nintendo Switch 2 juga dikabarkan tengah menyesuaikan desain mereka agar sejalan dengan aturan Uni Eropa ini.










