Duduk Perkara Batalnya Impor KRL Bekas Jepang oleh KAI

KRL/Polri

Generasi.co, Jakarta – Rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengimpor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang akhirnya batal. Sebagai gantinya, KAI akan mengadakan 23 rangkaian (trainset) KRL baru dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin memastikan hal itu usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana, Jakarta, Kamis (5/11/2026). Rapat tersebut berlangsung hampir tiga jam.

“Enggak, kita enggak impor (KRL) bekas. Pokoknya buat rakyat harus yang baru,” kata Bobby.

Dari 23 trainset yang dibutuhkan, delapan di antaranya mendesak dipenuhi lebih dulu. Sebagian pengadaan akan melibatkan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA. KAI juga membuka peluang bekerja sama dengan produsen luar negeri, dengan syarat melibatkan industri nasional.

“Salah satunya nanti sebagian ke INKA. Wajib mendukung industri dalam negeri,” ujarnya. “Luar negeri harus kerja sama sama dalam negeri,” sambungnya.

Keputusan ini berbeda dari usulan Bobby sebelumnya. Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI pada Rabu (23/9/2026), ia mengusulkan impor KRL bekas dari Jepang sebagai solusi sementara untuk menutup kekurangan armada KRL Jabodetabek.

Usulan itu muncul di tengah lonjakan penumpang. Bobby menyebut jumlah penumpang KRL pada semester I-2026 tumbuh 11,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, jauh di atas proyeksi awal sebesar 3 hingga 4 persen. Jumlah penumpang harian yang sebelumnya di bawah satu juta kini mencapai 1,1 juta orang.

“Ini terjadi anomali kalau kita bandingkan 2025 di 2026, itu 11,5%,” kata Bobby saat itu.

Di sisi armada, KAI mencatat sekitar 92 trainset telah berusia 40 tahun dan harus dikonservasi bertahap. Rata-rata usia kereta yang dioperasikan KAI lebih dari 41 tahun, dan 13 trainset harus dikonservasi atau dipensiunkan pada 2026.

Kebutuhan operasional pada 2026 mencapai 105 trainset, sedangkan sarana yang tersedia pada awal tahun hanya 102 rangkaian. Kondisi itu diperberat keterlambatan pengiriman sembilan dari 16 trainset pesanan kepada INKA. Dari jumlah tersebut, baru tujuh rangkaian yang beroperasi.

Tekanan armada diperkirakan memuncak pada 2029, saat sejumlah rangkaian berusia 45 tahun. “Sudah berumur 45. 45 ini kita sudah tidak deal, satu sparepart-nya sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue,” ujar Bobby.

Menurut Bobby, KRL bekas Jepang dipilih karena waktu pengadaannya sekitar satu hingga dua bulan, sedangkan kereta baru membutuhkan satu hingga dua tahun sejak pemesanan hingga pengiriman. Kereta bekas itu direncanakan dipakai sekitar 10 tahun sebagai solusi transisi.

Sistem perkeretaapian Jepang juga dinilai sesuai dengan yang digunakan di Indonesia, mulai dari rel, lebar jalur, hingga listrik aliran atas (LAA).

“Kita tidak bisa impor dari tempat yang lain karena memang sistemnya berbeda,” jelasnya.

KAI kemudian mengajukan proposal impor kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono mengatakan proposal itu sudah diterima dan sedang dievaluasi, terutama spesifikasi teknisnya.

“Mereka (PT KAI) sudah menyampaikan proposalnya. Sedang kami pelajari ya, sedang kami evaluasi, terutama terkait spesifikasi teknisnya,” kata Allan di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Evaluasi mencakup konfigurasi tempat duduk dan keberadaan toilet pada kereta asal Jepang, untuk melihat kemungkinan penyesuaian desain agar kapasitas angkut lebih optimal. Allan menyebut Kemenhub masih menunggu spesifikasi final dari KAI.

Sebelum wacana impor mengemuka, tujuh trainset KRL seri iE305 produksi INKA sempat menjalani pemeriksaan menyeluruh bersama KAI Commuter dan INKA pada 7 hingga 30 September 2026.