Dukung Gebrakan Prabowo di Bursa, Pimpinan MPR: MSCI Itu ‘License to Invest’, Kita Harus Berbenah

Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno /Ist.

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, mengapresiasi respons cepat dan tegas Presiden Prabowo Subianto dalam memulihkan kepercayaan pasar modal Indonesia yang sempat terguncang hebat.

Guncangan tersebut terjadi akibat keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menghentikan proses index rebalancing atas saham-saham Indonesia, menyusul kekhawatiran terkait transparansi dan tata kelola di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Eddy menilai, instruksi Presiden yang disampaikan melalui Menko Perekonomian untuk segera meningkatkan free float (saham publik) dan transparansi kepemilikan saham adalah langkah tepat yang sangat dinanti pasar.

“Hanya melalui perbaikan tata kelola, transparansi, dan peningkatan likuiditas di bursa, saham Indonesia akan terhindar dari penurunan peringkat MSCI dari emerging ke frontier market,” tegas Eddy di Jakarta.

‘Deadline’ Evaluasi hingga Mei

Eddy, yang memiliki pengalaman selama 20 tahun sebagai praktisi perbankan dan pasar modal, mengingatkan bahwa waktu pembenahan sangat terbatas.

“Karena MSCI memberikan tenggat waktu evaluasi sampai dengan bulan Mei, maka kami mendorong Direksi BEI dan OJK untuk segera berbenah,” ujarnya.

Menurut mantan bankir investasi di Merrill Lynch ini, MSCI bukan sekadar panduan, melainkan “izin investasi” (license to invest) bagi investor institusional asing. Hal ini krusial mengingat investor asing memegang porsi jumbo, yakni sekitar 45 persen dari total nilai kepemilikan saham di BEI.

“Tidak mengherankan ketika MSCI menjatuhkan ‘mosi tidak percaya’ kepada pasar saham Indonesia, terjadi penjualan saham besar-besaran sehingga indeks saham di bursa anjlok hampir 8 persen,” jelas Eddy.

Selamatkan Aset BUMN dan Dana Pensiun

Lebih jauh, Waketum PAN ini menekankan bahwa gejolak pasar saham berdampak langsung pada kekayaan nasional. Jika harga saham emiten pelat merah (BUMN) rontok, otomatis nilai kekayaan negara ikut menyusut.

Namun, ia menyoroti dampak yang lebih personal bagi rakyat.

“Yang paling terdampak adalah para investor minoritas yang merupakan pribadi-pribadi yang menggunakan tabungan atau uang pensiunnya untuk berinvestasi di pasar modal,” kata Eddy.

Oleh karena itu, ia memuji langkah Presiden Prabowo yang dinilainya menaruh perhatian serius untuk melindungi kepentingan investor kecil sekaligus menjaga nilai aset bangsa.

“Sekarang saatnya berbenah dan kita tidak mengenal istirahat untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan, agar Indonesia lolos dari evaluasi di bulan Mei dan terus berkembang memiliki pasar modal dengan kinerja dan tata kelola berstandar internasional,” tutupnya.