Eddy Soeparno Dorong Solusi Sampah Berbasis Energi di Balikpapan

Eddy Soeparno Dorong Solusi Sampah Berbasis Energi untuk Balikpapan (Sumber: MPR)
Eddy Soeparno Dorong Solusi Sampah Berbasis Energi untuk Balikpapan (Sumber: MPR)

Waketum PAN Eddy Soeparno dorong pengolahan sampah jadi energi di Balikpapan, targetkan selesaikan 70% masalah sampah nasional pada 2028.

Generasi.co, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno kembali menegaskan komitmennya dalam menangani krisis sampah nasional yang kini kian mendesak. Terbaru, ia mengunjungi Balikpapan dan bertemu langsung dengan Wali Kota Rahmat Mas’ud di Balai Kota Balikpapan, didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup serta Asisten I Wali Kota.

Dalam pertemuan tersebut, Eddy menyampaikan dukungan penuh kepada Pemerintah Kota Balikpapan untuk mencari solusi komprehensif atas permasalahan sampah yang semakin kompleks. Menurutnya, meski Balikpapan menghasilkan sekitar 500 ton sampah per hari, kota ini belum masuk dalam cakupan revisi Peraturan Presiden tentang pengelolaan sampah yang kini masih difinalisasi.

“Oleh karena itu kami akan membantu mencari solusi yang terbaik agar sampah yang jumlahnya kurang lebih 500 ton per hari itu bisa juga diurai, kemudian bisa dijadikan bagian dari pembangkit sampah energi listrik yang memang akan kita bangun di 33 tempat di seluruh Indonesia,” kata Eddy dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/9/2025).

Ia berharap program Pembangkit Sampah Energi Listrik (PSEL) yang direncanakan pemerintah dapat menyelesaikan 60–70 persen masalah sampah nasional pada tahun 2028.

Menurut Eddy, kebutuhan akan solusi sistemik makin mendesak karena volume sampah bertambah seiring dengan pertumbuhan penduduk, terutama di kota-kota besar dengan intensitas aktivitas ekonomi yang tinggi.

“Terutama yang terdampak adalah kota-kota besar yang intensitas aktivitas ekonomi dan kegiatannya tinggi, dan sampah yang dihasilkan juga banyak dalam bentuk sisa makanan dan plastik,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya merancang solusi untuk kota-kota yang menghasilkan sampah kurang dari 1000 ton per hari. Teknologi waste to energy tetap harus bisa diterapkan di kota-kota seperti Balikpapan.

“Kami mendengar masukan dari Pak Wali dan menyerap semua aspirasinya, terutama berkaitan dengan jumlah sampah per hari yang kurang dari 1000 ton,” ujar Eddy.

Ia menambahkan, masukan dari Balikpapan akan segera dibahas bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, agar regulasi mendukung kota-kota dengan kapasitas sampah menengah.

“Kami pastikan akan segera membahas hal tersebut dengan Kementerian Lingkungan Hidup termasuk juga Kemenko Pangan untuk menyampaikan aspirasi kota-kota yang memiliki sampah di bawah seribu atau dua ribu ton,” tutupnya.

Kunjungan Eddy Soeparno ke Balikpapan merupakan bagian dari rangkaian dialognya dengan para kepala daerah dalam rangka mendorong penguatan pengelolaan sampah berbasis energi. Sebelumnya, ia telah melakukan pertemuan serupa dengan wali kota dari berbagai kota seperti Yogyakarta, Solo, Tangerang Selatan, Manado, Makassar, dan Palembang.

Krisis sampah yang telah berdampak pada bencana ekologis seperti banjir besar di Bali menunjukkan urgensi langkah nyata. Eddy Soeparno menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, ditambah terobosan teknologi, merupakan kunci dalam menyelesaikan persoalan ini secara nasional.

(mpr.go.id)