Gerindra: Keberhasilan Investasi Bukan dari MoU, tapi Proyek yang Benar-Benar Berjalan

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti/DPR RI

Generasi.co, Jakarta – Anggota DPR Fraksi Gerindra Azis Subekti menegaskan keberhasilan kerja sama investasi Indonesia tidak seharusnya diukur dari banyaknya nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani. Menurutnya, ukuran sesungguhnya adalah kemampuan pemerintah merealisasikan komitmen tersebut menjadi proyek yang berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Azis mengatakan Indonesia saat ini menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di mata dunia. Berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Prancis, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Korea Selatan, Australia, Singapura, Rusia, Brasil, India, dan sejumlah negara lainnya terus menjalin kerja sama investasi dengan Indonesia.

Ia menyebut total komitmen investasi yang diumumkan dari berbagai kerja sama tersebut mencapai sekitar 175 miliar dolar AS. Nilai tersebut, kata Azis, mencerminkan besarnya kepercayaan dunia terhadap potensi ekonomi Indonesia.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa besarnya komitmen investasi tidak akan memberikan dampak apabila tidak mampu diwujudkan menjadi proyek konkret.

“Persoalannya bukan apakah Indonesia memiliki peluang. Persoalannya adalah apakah institusi negara mampu mengubah peluang menjadi hasil,” kata Azis dalam keterangannya, Selasa, 30 Juni.

Menurut Azis, tantangan terbesar investasi di Indonesia justru berada pada tahap implementasi. Persoalan perizinan, tata ruang, koordinasi antarlembaga, kepastian regulasi, hingga pembebasan lahan masih kerap menjadi hambatan yang dihadapi investor.

Ia menilai pelaku usaha pada dasarnya memahami adanya risiko dalam berinvestasi. Namun, ketidakpastian dalam proses pelaksanaan proyek menjadi persoalan yang lebih dikhawatirkan.

“Investor tidak takut pada risiko. Mereka takut pada ketidakpastian. Risiko dapat dihitung, ketidakpastian tidak dapat dihitung,” ujarnya.

Azis menambahkan Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang dinilai berhasil mengubah arus investasi menjadi kekuatan ekonomi nasional, seperti Korea Selatan, Tiongkok, Vietnam, dan Malaysia. Menurutnya, keberhasilan negara-negara tersebut didukung koordinasi kelembagaan yang kuat serta fokus pada pencapaian hasil.

Ia menilai indikator keberhasilan investasi seharusnya bergeser dari besarnya nilai komitmen menjadi dampak nyata yang dihasilkan, seperti berdirinya pabrik baru, bertambahnya lapangan kerja, meningkatnya ekspor, berkembangnya kapasitas industri, hingga terjadinya transfer teknologi.

Azis meyakini realisasi investasi strategis dapat memperkuat industrialisasi nasional, meningkatkan produktivitas, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mempercepat langkah Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi.

“Indonesia tidak kekurangan modal, mitra, atau ketertarikan dunia. Yang sedang diuji adalah kapasitas negara untuk mengubah semua itu menjadi kemakmuran,” katanya.

Ia menegaskan masa depan ekonomi Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya MoU yang ditandatangani, melainkan oleh kemampuan negara memastikan setiap komitmen investasi terealisasi menjadi proyek produktif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.