Lestari Moerdijat ajak kolaborasi pemerintah dan keluarga tingkatkan kesehatan mental dengan pendidikan keluarga, cegah gangguan jiwa sejak dini.
Generasi.co, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia yang seimbang antara kesehatan fisik dan mental dalam sebuah diskusi daring bertajuk Pendidikan Keluarga untuk Mewujudkan Kesehatan Jiwa Holistik, yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12.
“Kemajuan peradaban mesti diimbangi dengan pembangunan manusia yang sehat jasmani dan rohani. Karena itu, negara harus mampu menjamin kesehatan fisik dan mental/jiwa setiap warga negaranya secara seimbang,” ujar Lestari dalam sambutannya secara tertulis, Rabu (17/9/2025).
Diskusi ini dimoderatori oleh Eva Kusuma Sundari, Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI, dan menghadirkan sejumlah narasumber seperti Edduwar Idul Riyadi dari Kementerian Kesehatan RI, Tjut Rifameutia dari Universitas Indonesia, Ika Shinta Sari, psikolog dan konsultan kesehatan holistik, serta Abdul Kohar, Direktur Pemberitaan Media Indonesia. Sementara itu, Okky Asokawati, Ketua Bidang Kesehatan DPP Partai NasDem, hadir sebagai penanggap.
Lestari menegaskan peran pendidikan keluarga sangat penting dalam mencegah dan menangani masalah kesehatan mental, apalagi survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan bahwa sekitar 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Meskipun Indonesia sudah memiliki payung hukum tentang kesehatan jiwa melalui UU Nomor 17 Tahun 2023 yang menggantikan UU Nomor 18 Tahun 2014, Lestari menyayangkan implementasinya yang masih belum optimal. Sistem layanan kesehatan jiwa saat ini masih kekurangan tenaga ahli dan panduan operasional, sementara anggaran untuk kesehatan mental pun sangat terbatas dan sebagian besar diarahkan ke rumah sakit jiwa, bukan pada layanan preventif berbasis masyarakat.
Edduwar Idul Riyadi menambahkan bahwa gangguan jiwa menjadi penyebab kedua hilangnya tahun produktif seseorang, dengan data terbaru menyebutkan 2% penduduk di atas usia 15 tahun pernah mengalami gangguan jiwa, tetapi 87% dari mereka tidak mendapatkan layanan kesehatan yang memadai. “Peran pengasuhan di lingkungan keluarga sangat penting dalam membangun kualitas kesehatan mental anggota keluarganya,” tegas Edduwar.
Sementara itu, Dr. Tjut Rifameutia menegaskan bahwa kesehatan jiwa holistik bergantung pada keseimbangan fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual, dan pendidikan keluarga merupakan fondasi utama untuk membentuk kesehatan jiwa tersebut. Orang tua harus peka terhadap perubahan anak agar dapat menjadi agen deteksi dini.
Psikolog Ika Shinta Sari mengungkapkan bahwa peningkatan kasus depresi dan kecemasan saat ini banyak dipicu oleh tekanan ekonomi dan kurangnya komunikasi di keluarga. Ia mengajukan pertanyaan penting, “Apakah keluarga sudah menjadi rumah aman bagi anggota keluarganya?” dan menekankan pentingnya pendidikan emosi serta dialog terbuka sejak dini.
Dari perspektif media, Abdul Kohar menyampaikan bahwa gangguan stres tidak hanya dialami anak dari keluarga tidak utuh, tapi juga dari keluarga yang terlihat utuh. Kohar juga mengingatkan dampak negatif paparan media sosial yang sangat luas bagi kesehatan jiwa anak-anak.
Di akhir diskusi, Okky Asokawati menyoroti pentingnya intervensi positif di setiap siklus kehidupan dan menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi untuk meningkatkan layanan kesehatan jiwa hingga ke tingkat daerah.
Diskusi ini menegaskan bahwa penanganan kesehatan mental memerlukan sinergi lintas sektor dan peran aktif keluarga sebagai fondasi utama untuk mewujudkan kualitas hidup yang sehat secara holistik.










