Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan rencana pemerintah membangun gedung baru untuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) di kawasan strategis Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Prasetyo menegaskan bahwa proyek tersebut akan berupa pembangunan baru, bukan sekadar renovasi atau penggunaan bangunan lama yang sudah ada.
“Iya (dimulai dari nol pembangunannya),” ujar Prasetyo kepada wartawan usai jumpa pers di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (10/2).
Tahap Desain dan Anggaran
Mengenai perkembangan proyek, Prasetyo menjelaskan bahwa saat ini pemerintah masih dalam tahap perancangan desain awal serta penghitungan kebutuhan anggaran. Oleh karena itu, besaran dana yang dibutuhkan belum dapat dipastikan.
Terkait sumber pendanaan, Prasetyo menyebut ada beberapa opsi. Anggaran pembangunan gedung tersebut berpotensi diambil dari pos Kementerian Agama (Kemenag), namun tidak menutup kemungkinan menggunakan pos anggaran lain yang relevan.
“Kalau itu kan masalah cara menyalurkan saja. Bisa dari lewat Kemenag, bisa enggak lewat Kemenag juga bisa,” jelasnya.
Menara 40 Lantai di Eks Kedubes Inggris
Rencana pembangunan ini merupakan tindak lanjut dari komitmen Presiden Prabowo Subianto. Dalam acara Munajat Bangsa dan Pengukuhan Pengurus MUI di Masjid Istiqlal, Sabtu (7/2), Prabowo mengumumkan penyediaan lahan seluas kurang lebih 4.000 meter persegi di jantung Ibu Kota.
Presiden bahkan mewacanakan pembangunan gedung pencakar langit hingga 40 lantai yang nantinya tidak hanya digunakan oleh MUI, tetapi juga badan-badan Islam lain seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) serta ormas Islam yang membutuhkan ruang.
Ketua MUI Bidang Penanggulangan Bencana, Nusron Wahid, memperjelas lokasi lahan tersebut. Ia mengonfirmasi bahwa gedung pusat kegiatan umat Islam ini akan berdiri di atas lahan bekas Kedutaan Besar Inggris di Jalan MH Thamrin, tepat di samping Hotel Grand Hyatt.










