Prabowo Harap Dukungan Jerman untuk IEU-CEPA, Ekspor RI ke Uni Eropa Ditarget Naik 2,5 Kali Lipat

Presiden Prabowo Subianto menerima Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia Jusuf Kalla didampingi Solihin Jusuf Kalla, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 11 Juni 2026. Foto: BPMI Setpres/Cahyo

Presiden Prabowo Subianto meminta dukungan aktif Jerman untuk mempercepat penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) agar perjanjian dagang tersebut segera memberikan manfaat konkret bagi dunia usaha di kedua belah pihak.

Permintaan itu disampaikan Prabowo usai menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka, Jakarta, Senin.

“Kami berharap Jerman terus memainkan peran aktif dalam proses penyelesaian kesepakatan internal di Eropa sehingga dapat segera memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha di kedua negara,” kata Prabowo dalam pernyataan bersama.

Prabowo mengatakan Indonesia dan Jerman memiliki kepentingan yang sama untuk memperdalam hubungan ekonomi di tengah situasi geopolitik global yang semakin kompleks.

Menurut dia, penyelesaian IEU-CEPA menjadi langkah penting untuk meningkatkan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan negara-negara Uni Eropa, termasuk Jerman. Ia juga optimistis negosiasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu dapat segera mencapai penyelesaian substantif.

Selain mendorong percepatan perjanjian dagang, Prabowo menyoroti penguatan kerja sama ekonomi kedua negara melalui Competitiveness Industrial Modernization and Trade Acceleration Program (CITA).

Program tersebut dirancang untuk meningkatkan daya saing industri, memodernisasi sektor manufaktur, serta mempercepat pengembangan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Jerman.

Pemerintah menilai kemitraan yang semakin kuat dengan negara-negara Eropa akan membuka akses pasar yang lebih luas, menarik investasi berkualitas, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di dalam negeri.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ratifikasi IEU-CEPA ditargetkan rampung pada semester II 2026 sebelum perjanjian itu mulai berlaku pada 2027.

Perjanjian tersebut mencakup perdagangan barang, jasa, dan investasi. Melalui IEU-CEPA, Indonesia dan Uni Eropa berkomitmen menghapus tarif atas lebih dari 98 persen produk yang diperdagangkan.

Pemerintah menargetkan ekspor Indonesia ke Uni Eropa meningkat 2,5 kali lipat dalam lima tahun setelah implementasi perjanjian, terutama pada sektor padat karya seperti minyak sawit, kopi, tekstil, perikanan, elektronik, alas kaki, produk kehutanan, dan furnitur.

Saat ini Uni Eropa merupakan salah satu dari lima sumber investasi terbesar bagi Indonesia. Nilai perdagangan kedua pihak mencapai sekitar US$30 miliar, sementara ekspor Indonesia ke kawasan tersebut mencapai sekitar US$13 miliar.

Dengan penyelesaian IEU-CEPA, Indonesia akan menjadi negara ketiga di ASEAN setelah Singapura dan Vietnam yang memiliki perjanjian dagang komprehensif dengan Uni Eropa.