Generasi.co, Auckland – Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengungkapkan Selandia Baru mulai mengecek sejumlah lokasi di Indonesia untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Menurut Sugiono, tim Selandia Baru tengah mencari beberapa titik yang dinilai dapat menjadi lokasi dukungan terhadap program tersebut. Sejumlah tempat di Rote dan Kupang disebut sudah mulai ditinjau.
“Mereka sekarang sedang mencari beberapa titik, saya kira ini juga akan bekerja sama dengan lembaga terkait di mana mereka bisa membantu,” ujar Sugiono usai pertemuan bilateral ke-13 Joint Ministerial Commission (JMC) RI-Selandia Baru di Auckland, Jumat (28/8).
Sugiono mengatakan Selandia Baru secara khusus tertarik membantu pelaksanaan MBG di daerah 3T.
“Tadi saya sampaikan mereka juga menyampaikan ketertarikannya terutama untuk di daerah-daerah yang 3T,” jelasnya.
“Jadi kalau saya tidak salah mereka sudah mulai meninjau beberapa tempat di Rote, Kupang,” katanya.
Dukungan terhadap MBG menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Sugiono dengan Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters. Sugiono mengatakan Selandia Baru memang menyampaikan keinginan untuk berkontribusi dalam program tersebut.
“Lebih spesifik lagi keinginan Selandia Baru untuk bisa juga berkontribusi dalam program makan bergizi gratis,” kata Sugiono.
Selain dukungan untuk MBG, Sugiono menyampaikan keinginan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia memperoleh pasokan sapi dari Selandia Baru untuk memenuhi kebutuhan susu.
“Tadi saya juga menyampaikan keinginan Presiden Prabowo untuk bisa mendapatkan sapi dari Selandia Baru untuk memenuhi kebutuhan kita akan susu,” ujarnya.
Sugiono mengatakan kebutuhan susu saat ini lebih cepat diperlukan dibandingkan daging. Ia menyebut produktivitas sapi di Selandia Baru mencapai sekitar 60-65 liter per hari.
“Bisa saja ke sana (daging), tapi saya kira yang mungkin lebih cepat dibutuhkan susu ya,” kata Sugiono.
“Tadi disampaikan produktivitas sapi mereka itu sekitar 60-65 liter per hari,” ungkap Sugiono.
Menurut Sugiono, peningkatan produktivitas susu di Indonesia dapat didukung melalui pendidikan dan pelatihan mengenai cara beternak yang baik.
“Dalam rangka mencapai itu tentu saja upaya-upaya di bidang pendidikan, di bidang pelatihan bagaimana beternak yang baik gitu kan, sehingga produktivitas tinggi itu bisa tercapai, jadi mereka mau support,” tandasnya.
Kerja sama ketahanan pangan menjadi salah satu pembahasan utama dalam pertemuan JMC ke-13. Indonesia dan Selandia Baru sepakat memperkuat kerja sama strategis di bidang tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, anak-anak, dan generasi muda Indonesia.
“Salah satu bidang yang strategis dalam hubungan Indonesia dan Selandia Baru adalah kerja sama di bidang ketahanan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, anak-anak, dan generasi muda Indonesia,” jelas Sugiono, melansir keterangan Kementerian Luar Negeri RI, Sabtu (29/8).
Kedua negara juga membahas peningkatan produktivitas pertanian dan pengembangan peternakan sapi, penguatan kapasitas energi terbarukan khususnya panas bumi dan tenaga surya, serta peningkatan kerja sama perdagangan, termasuk implementasi sertifikasi halal.
Di bidang pendidikan, Indonesia dan Selandia Baru sepakat mendorong peningkatan peluang beasiswa bagi mahasiswa Indonesia, khususnya untuk bidang-bidang yang menjadi prioritas pembangunan nasional.
Kedua negara juga bertukar pandangan mengenai isu regional dan global serta menegaskan komitmen terhadap stabilitas, perdamaian, dan kesejahteraan di kawasan Indo-Pasifik melalui kerja sama di forum regional, termasuk ASEAN dan Pacific Islands Forum (PIF).
Sugiono menyambut baik keketuaan Selandia Baru di PIF pada 2027 dan berharap keketuaan tersebut berlangsung sukses.
JMC merupakan mekanisme utama dialog bilateral Indonesia dan Selandia Baru untuk membahas perkembangan hubungan kedua negara serta menggali potensi penguatan kerja sama. Forum tersebut juga menjadi sarana meninjau dan mengawal implementasi Rencana Aksi Kemitraan Komprehensif Indonesia-Selandia Baru periode 2025-2029.
Pertemuan tahun ini menjadi bagian dari persiapan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Selandia Baru yang akan diperingati pada 2028. Sebagai hasil pertemuan, kedua negara mengeluarkan Joint Statement yang memuat kesepahaman untuk memperkuat dan menindaklanjuti berbagai kesepakatan kerja sama bilateral.










