Waspada! Penyakit Serius yang Mengintai Saat Banjir Melanda

Sebuah mobil hanyut terbawa arus banjir di Kampung Nawit, Kecamatan Setu, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/3/2025), pagi. (Tangkap Layar Instagram @bekasi.terkini)
Sebuah mobil hanyut terbawa arus banjir di Kampung Nawit, Kecamatan Setu, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/3/2025), pagi. (Tangkap Layar Instagram @bekasi.terkini)

Setiap kali banjir datang, perhatian publik biasanya tertuju pada air yang naik, kerusakan rumah, dan proses evakuasi. Namun ada ancaman lain yang sering luput dari perhatian: penyakit mematikan yang muncul akibat air banjir yang kotor, penuh patogen, dan bercampur limbah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, BNPB, dan WHO, banjir merupakan salah satu pemicu peningkatan penyakit berbahaya—beberapa di antaranya dapat menimbulkan komplikasi serius hingga kematian jika tidak ditangani cepat.

Untuk membantu masyarakat tetap aman, berikut daftar lengkap penyakit berbahaya yang paling perlu diwaspadai saat banjir, beserta gejala dan langkah pencegahan yang bisa dilakukan.

1. Leptospirosis — Penyakit Mematikan dari Urine Tikus

Leptospirosis adalah penyakit yang paling sering meningkat pascabanjir. Bakteri Leptospira masuk melalui air banjir yang tercemar urine tikus.

Bakteri ini bisa masuk melalui:

  • luka kecil yang tidak terlihat,
  • kulit lecet,
  • bahkan selaput mata.

Gejala awal (sering disangka flu biasa):

  • demam tinggi
  • nyeri otot terutama betis
  • mata memerah
  • mual dan muntah

Jika terlambat ditangani, penyakit ini bisa berkembang menjadi:

  • gagal ginjal
  • gagal jantung
  • perdarahan paru
  • kematian

Cara mencegah:

  • Gunakan sepatu bot saat kontak dengan air banjir.
  • Tutup luka sebelum beraktivitas.
  • Segera periksa ke puskesmas jika demam setelah banjir.

2. Diare Akut — Bisa Menjadi Dehidrasi Berat pada Anak

Air banjir kerap mencemari sumur, galon, dan tempat penyimpanan air. Penyakit diare dari bakteri seperti E. coli, Shigella, atau Salmonella dapat menyebar dengan cepat.

Anak-anak adalah korban paling rentan.

Tanda bahaya:

  • buang air besar cair lebih dari 3 kali sehari
  • muntah tak henti
  • mata cekung
  • bibir kering
  • lemas dan mengantuk

Tanpa penanganan, diare bisa menyebabkan dehidrasi fatal hanya dalam hitungan jam.

Pencegahan:

  • Minum hanya air matang atau air kemasan.
  • Cuci tangan pakai sabun sebelum makan.
  • Jangan konsumsi makanan yang terkena air banjir.

3. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Rumah lembap, tumpukan pakaian basah, dan paparan jamur memicu ISPA. Pada orang dengan daya tahan tubuh rendah, ISPA dapat berkembang menjadi pneumonia.

Gejala yang perlu diwaspadai:

  • batuk berkepanjangan
  • napas tersengal atau cepat
  • demam tinggi
  • nyeri dada

Pada lansia dan bayi, pneumonia bisa berakibat fatal.

Pencegahan:

  • Segera keringkan rumah dan barang-barang setelah banjir surut.
  • Gunakan masker jika rumah masih lembap dan berjamur.
  • Jaga jarak dari orang yang sedang batuk atau flu.

4. Penyakit Kulit yang Berujung Infeksi Serius

Air banjir membawa bakteri dan parasit yang bisa memicu:

  • infeksi jamur,
  • dermatitis,
  • gatal-gatal,
  • infeksi bakteri (selulitis).

Jika dibiarkan, luka kecil bisa menjadi infeksi berat yang membutuhkan perawatan antibiotik.

Tips menghindari infeksi:

  • Jangan merendam kaki terlalu lama di air banjir.
  • Cuci kulit dengan sabun antiseptik setelah terkena air.
  • Obati luka kecil agar tidak menjadi infeksi besar.

5. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Setelah banjir, banyak genangan air tertinggal. Ini adalah lokasi favorit nyamuk Aedes aegypti untuk bertelur. Beberapa minggu setelah banjir, biasanya kasus DBD meningkat tajam.

Gejala yang harus diperhatikan:

  • demam tinggi mendadak
  • nyeri belakang mata
  • bintik merah pada kulit
  • mimisan atau gusi berdarah

Komplikasi DBD dapat menyebabkan syok dan kematian.

Cara mencegah:

  • Kuras semua genangan setelah banjir.
  • Gunakan lotion antinyamuk.
  • Pasang kelambu pada tempat tidur bayi.

6. Hepatitis A — Penularan dari Air Tercemar

Virus Hepatitis A menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi air banjir. Penyakit ini menyebabkan peradangan pada organ hati.

Gejala umum:

  • mual
  • urine berwarna gelap
  • mata dan kulit menguning
  • demam

Hepatitis A dapat sembuh, tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan komplikasi berat.

Pencegahan:

  • Konsumsi makanan yang benar-benar matang.
  • Pastikan air minum steril.

7. Tetanus — Infeksi dari Luka Kontaminasi Banjir

Tetanus berasal dari bakteri Clostridium tetani yang masuk melalui luka terbuka. Air banjir yang bercampur lumpur dan sampah membuat risiko semakin besar.

Gejala serius:

  • kejang otot rahang (lockjaw)
  • kesulitan bernapas
  • kejang tubuh

Ini penyakit mematikan bila tidak segera diobati.

Pencegahan:

  • Pastikan vaksin tetanus masih berlaku.
  • Segera bersihkan luka dengan antiseptik.

Mengapa Penyakit-Wabah Mudah Terjadi Saat Banjir?

Karena kombinasi faktor:

  • air tercemar limbah rumah tangga dan industrial,
  • tikus dan hewan lain keluar dari sarang,
  • sanitasi rusak,
  • tempat penampungan penuh,
  • penurunan daya tahan tubuh akibat stres dan dingin.

Inilah mengapa banjir dianggap sebagai situasi darurat kesehatan masyarakat.

Cara Melindungi Keluarga Saat Wabah Pascabanjir

Beberapa langkah sederhana dapat menyelamatkan nyawa:

  • Gunakan APD (sepatu bot, sarung tangan) bila berjalan di air.
  • Cuci tangan sesering mungkin dengan sabun.
  • Minum air matang saja.
  • Segera periksa ke puskesmas jika muncul demam, mual, atau gatal parah.
  • Pantau kondisi anak-anak ekstra ketat.

Kesimpulan: Waspada Boleh, Panik Tidak Perlu

Banjir memang membawa banyak risiko kesehatan, tetapi sebagian besar bisa dicegah dengan langkah cepat dan tepat. Mengenali gejala dan memahami cara penularannya membuat kita lebih siap melindungi diri dan keluarga.