BGN Hentikan SPPG Watubangga Usai 57 Pelajar Keluhkan Kesehatan

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)/Kemendikdasmen

Generasi.co, KENDARI – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Watubangga Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, setelah 57 pelajar mengalami keluhan kesehatan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).

Penghentian distribusi MBG itu berlaku sejak Sabtu (19/9) berdasarkan hasil evaluasi BGN. SPPG Watubangga diminta tidak memproduksi dan menyalurkan makanan kepada penerima manfaat hingga ada keputusan lebih lanjut.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kota Kendari Mulyadi mengatakan BGN belum menetapkan batas waktu penghentian karena evaluasi terhadap kejadian tersebut masih berlangsung.

“SPPG Kota Kendari Baruga Watubangga telah mendapat Surat Pemberhentian Operasional Sementara dari Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN,” kata Mulyadi saat dihubungi, Minggu.

Berdasarkan data internal SPPG, 57 pelajar mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap MBG. Mayoritas merupakan pelajar MTs Al Askar Kendari dan MA Al Askar Kendari.

Mulyadi mengatakan SPPG Watubangga berkoordinasi dengan pihak sekolah, fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, dan pihak terkait untuk memastikan para pelajar mendapat penanganan medis.

BGN juga menanggung biaya pengobatan dan perawatan para pelajar di Rumah Sakit Bahteramas, Rumah Sakit Dewi Sartika, serta Puskesmas Lepo-Lepo.

Kepala Puskesmas Lepo-Lepo Baruga Dewi Sultriana mengatakan dua pelajar masih menjalani perawatan dari 28 pelajar yang sebelumnya dibawa ke fasilitas kesehatan tersebut.

“Kalau kesehatan mereka sudah membaik dari waktu mereka masuk, hanya keluhannya masih ada yang pusing-pusing,” kata Dewi.

Petugas puskesmas juga memantau kondisi psikologis para pelajar yang rata-rata berusia 12 hingga 15 tahun.

“Termasuk kondisi psikologis mereka kami pantau, karena masih ada pelajar yang belum dijenguk sama keluarga mereka,” ujarnya.

Berdasarkan data pada kartu layanan jaminan sosial, para pelajar tersebut rata-rata berasal dari Kabupaten Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, dan Bombana.