BMKG: Sebaran Abu Anak Krakatau Terus Berkurang

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau/abu.cikoytew.my.id

Generasi.co, JAKARTA – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Kondisi tersebut diikuti membaiknya kualitas udara, sementara delapan bandara yang sebelumnya ditutup telah kembali beroperasi setelah hasil pemantauan menunjukkan negatif paparan abu vulkanik.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprakirakan sebaran abu vulkanik bergerak menjauhi Indonesia sejak Selasa (8/9) pukul 04.00 WIB.

Berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra RGB Himawari-9, sebaran debu vulkanik Anak Krakatau pada pukul 04.00 WIB teramati dari permukaan hingga ketinggian 6.000 kaki atau sekitar 1,8 kilometer. Abu bergerak ke arah selatan-barat daya hingga mencakup Samudra Hindia barat laut Banten.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pemantauan dilakukan secara berkala melalui paper test di sejumlah titik untuk melengkapi data citra satelit dan meteorologi penerbangan.

“Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan bahwa delapan bandara yang sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik,” kata Faisal seperti dikutip dari situs resmi BMKG, Selasa (8/9).

Delapan bandara yang kembali beroperasi yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Taufiq Kiemas, Radin Inten II, serta Salakanagara Tanjung Lesung.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan abu vulkanik secara umum terpantau hingga ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,13 kilometer. Pada pukul 09.00 WIB, abu bergerak ke arah selatan-barat daya dengan kecepatan hingga 18,5 kilometer per jam.

“Pantauan cuaca di sekitar GAK (Gunung Anak Krakatau) dan perairan Selat Sunda cenderung cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari,” ujar Andri.

Meski sebaran abu bergerak menjauh, BMKG menyebut masih terdapat abu vulkanik yang dapat menurunkan kualitas udara dan jarak pandang. Pada ketinggian tertentu, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan.

BMKG juga mencatat adanya erupsi baru berdasarkan informasi terbaru PVMBG pukul 07.49 WIB. Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 48 milimeter dengan durasi 19 detik dan masuk kategori erupsi strombolian atau erupsi kecil.

Pemantauan melalui 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di Carita serta Tanjung Lesung tidak menunjukkan anomali gelombang muka air laut. BMKG menyatakan probabilitas tsunami berada dalam kategori rendah, sementara tinggi gelombang di sekitar Selat Sunda diperkirakan berkisar 0,5-3 meter dalam tujuh hari ke depan.

BMKG juga memantau gangguan geomagnetik dan sambaran petir vulkanik akibat aktivitas Anak Krakatau. Hasil pemantauan menunjukkan gangguan geomagnetik kecil dan sambaran petir vulkanik terjadi mulai pukul 21.00 hingga 23.00 WIB pada malam sebelumnya, dengan intensitas yang menurun dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Di sisi lain, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Perhubungan, dan pihak terkait melanjutkan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dimulai sejak 7 September 2026.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan OMC dilakukan melalui penyemaian awan hujan dan penyemprotan watermist menggunakan dua pesawat Cessna Caravan yang beroperasi dari Posko Bandara Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma.

“Hingga saat ini, OMC telah melaksanakan lima sorti penerbangan, 1 sorti menggunakan bahan semai powder NaCl, 1 sorti liquid CaCl2 dan 3 sorti menggunakan spraying/watermist,” jelas Seto.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap dampak erupsi Anak Krakatau. Warga di wilayah yang masih terpapar abu vulkanik diminta memperhatikan kondisi kesehatan dengan membatasi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar.