Bengkayang, Generasi.co — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) melalui Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bengkayang, Kalimantan Barat, terus mempertegas perannya sebagai motor penggerak ekonomi di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. BRI secara masif memperluas akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan layanan inklusi keuangan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
Pimpinan BRI KCP Bengkayang, Vendy Aries Martcahyo, menyatakan bahwa penyaluran KUR adalah instrumen strategis untuk menjangkau masyarakat perdesaan dan perbatasan yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap perbankan formal.
“Jumlah penyaluran KUR terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan modal usaha masyarakat. Penyaluran tersebut didukung oleh kantor-kantor unit BRI yang tersebar di sejumlah kecamatan di wilayah Bengkayang,” ujar Vendy, Kamis (14/5/2026).
Sektor Perkebunan Dominasi Serapan KUR
Vendy membeberkan bahwa serapan pembiayaan KUR di wilayah Bengkayang didominasi oleh pelaku UMKM di sektor perkebunan. Namun, pembiayaan juga mengalir deras ke berbagai sektor esensial lainnya guna menciptakan efek ganda (multiplier effect) bagi ekonomi perbatasan.
Sektor yang menjadi fokus penyaluran antara lain:
- Pengolahan hasil kebun dan pertokoan sarana produksi pertanian.
- Peternakan.
- Perdagangan (toko sembako).
- Usaha kuliner dan kerajinan tangan (seperti di Kampung Kreatif Sekida).
Bukan Sekadar Beri Modal, Mantri BRI Turun Gunung
Lebih dari sekadar menyalurkan uang, BRI membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan. Hal ini diwujudkan melalui pendampingan langsung oleh petugas lapangan atau “Mantri BRI”. Mereka secara rutin memantau perkembangan, mengidentifikasi kendala, dan memberikan solusi bisnis kepada nasabah di pelosok.
Untuk transaksi harian, BRI mengandalkan jaringan Agen BRILink yang tersebar hingga ke desa-desa terpencil.
“Agen BRILink menjadi layanan yang paling dirasakan manfaatnya di perbatasan. Masyarakat bisa tarik tunai, transfer, dan bayar tagihan tanpa harus pergi jauh ke pusat kota, sehingga mempercepat perputaran uang di desa,” jelas Vendy.
Hambatan Penyaluran: SLIK OJK hingga Legalitas Usaha
Meski penyaluran terbilang masif, Vendy tidak menampik adanya sejumlah tantangan di lapangan yang membuat pengajuan KUR terhambat atau ditolak. Pihak bank melakukan verifikasi ketat untuk memitigasi risiko kredit macet.
Tabel Kendala Penyaluran KUR di Bengkayang:
| Jenis Kendala | Deskripsi Masalah di Lapangan |
| Legalitas Usaha | Calon debitur belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) atau Surat Keterangan Usaha (SKU). |
| Riwayat Kredit | Nasabah memiliki rapor merah (kredit bermasalah) yang tercatat dalam SLIK Otoritas Jasa Keuangan (OJK). |
| Kelayakan Usaha | Profil usaha dinilai belum layak atau belum matang untuk menerima pembiayaan bank. |
| Validitas Data | Ketidaksesuaian antara dokumen pengajuan administrasi dengan kondisi riil usaha saat disurvei. |
Fokus Masa Depan: Klasterisasi dan Transformasi Digital
Ke depan, BRI KCP Bengkayang tidak hanya menargetkan kuantitas penyaluran, tetapi juga kualitas UMKM agar bisa “naik kelas”. Beberapa strategi yang disiapkan meliputi:
- Pengembangan KUR berbasis klaster komoditas unggulan.
- Pemanfaatan layanan perbankan digital melalui BRImo.
- Perluasan akses pasar melalui platform e-commerce dan partisipasi dalam UMKM Expo BRI.
- Pendampingan literasi keuangan, pembukuan usaha, dan pemasaran digital.
“Melalui pendampingan komprehensif ini, kami berharap UMKM mampu memperluas pasar hingga tingkat nasional maupun internasional, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan,” tutup Vendy.










