Eddy Soeparno Orasi Ilmiah di Universitas Pattimura, Bicara Tantangan Disrupsi Global

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menyampaikan pandangannya mengenai kebijakan BBM bersubsidi dan LPG 3 kg di sela rangkaian acara di Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama Ketua MPR Ahmad Muzani dan Pimpinan MPR lainnya/Ist.

Ambon, Generasi.co — Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, didaulat untuk menyampaikan orasi ilmiah di hadapan ribuan wisudawan, rektor, dan jajaran guru besar dalam rangkaian acara Wisuda dan Dies Natalis ke-63 Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.

Dalam orasinya, Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia ini membedah secara tajam posisi strategis Indonesia yang tengah berada di pusaran disrupsi global, sekaligus memetakan tantangan dan peluang bagi generasi muda ke depan.

Acara bergengsi ini turut dihadiri oleh jajaran petinggi daerah, di antaranya:

  • Wakil Gubernur Maluku: Abdullah Vanath.
  • Ketua DPRD Provinsi Maluku: Benhur Watubun.
  • Sekretaris Daerah Provinsi Maluku: Ir. Sadali.

Pusaran Disrupsi Multisektor yang Cepat dan Simultan

Eddy Soeparno memaparkan bahwa tatanan dunia saat ini sedang mengalami guncangan hebat akibat kombinasi disrupsi di bidang teknologi (kecerdasan buatan/AI), kesehatan pasca-pandemi, krisis iklim, hingga ketegangan geopolitik.

Waketum PAN ini menyoroti bagaimana eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu efek domino yang merusak rantai pasok global.

“Perlu ditegaskan bahwa disrupsi yang terjadi saat ini memiliki karakter yang jauh lebih cepat, luas, dan berdampak simultan di berbagai sektor. Dampaknya terasa langsung pada kenaikan harga berbagai komoditas, termasuk energi, pangan, hingga transportasi,” ujar Eddy.

Dilema Energi Nasional dan Keniscayaan ‘Green Jobs’

Lebih jauh, Eddy membedah tantangan ketahanan energi nasional. Indonesia saat ini dihadapkan pada dilema: ketergantungan yang masih tinggi pada energi fosil di satu sisi, dan urgensi transisi menuju energi bersih yang tidak bisa ditunda di sisi lain.

Ia menegaskan bahwa produksi migas nasional memang harus ditingkatkan untuk ketahanan jangka pendek, namun solusi jangka panjang mutlak harus difokuskan pada:

  • Akselerasi Elektrifikasi di berbagai sektor.
  • Pengembangan Bioenergi yang masif.
  • Eksplorasi Energi Baru, termasuk potensi hidrogen dan nuklir.

Transformasi industri menuju energi hijau ini dipastikan akan merombak struktur pasar tenaga kerja secara radikal dengan lahirnya lapangan pekerjaan baru yang ramah lingkungan (green jobs). Untuk menyerap peluang ini, kualitas sumber daya manusia (SDM) harus ditingkatkan.

“Kesiapan SDM adalah kunci. Reskilling dan upskilling menjadi keharusan. Dunia pendidikan harus terhubung erat dengan kebutuhan industri melalui konsep link and match,” jelas Eddy.

Tantangan Menjadi Peluang

Menutup orasinya, Eddy menitipkan pesan pembakar semangat bagi para lulusan Unpatti. Ia meminta generasi muda Maluku untuk tidak memandang rentetan krisis global ini sebagai ancaman, melainkan pijakan untuk melompat lebih tinggi.

“Para pemenang adalah mereka yang mampu beradaptasi cepat, jeli melihat peluang, dan tetap berprestasi di tengah ketidakpastian. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia dan berkontribusi di bidang masing-masing,” pungkasnya.