Wakil Ketua MPR Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA (HNW) menerima delegasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah serta BEM Fakultas Ilmu Agama Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Ruang Kerja Gedung Nusantara III, Senayan. Dalam pertemuan itu HNW menekankan pentingnya menegakkan kepemimpinan profetik dan nilai-nilai madani sebagai modal mempersiapkan generasi pemimpin menuju Indonesia Emas 2045.
Pada pertemuan yang dihadiri Syaputra Panduwardana dan sembilan pengurus BEM lain tersebut, delegasi mengundang HNW menjadi pembicara kunci pada kegiatan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa yang dijadwalkan 25 Desember 2025. HNW menyambut ajakan itu sekaligus memberi pesan tegas tentang landasan kepemimpinan yang harus dipelihara mahasiswa Islam.
“Sebagai mahasiswa Islam, kepemimpinan hendaknya tetap profetik dan tidak dilepaskan dari basis ke-Islaman,” ujar HNW, menggarisbawahi relevansi keteladanan Nabi Muhammad SAW—dari visi, misi, hingga bukti keberhasilan kepemimpinan—sebagai rujukan praktis bagi pemimpin muda. Menurutnya, kepemimpinan Rasulullah menunjukan bagaimana tanggung jawab mensejahterakan umat dan masyarakat dapat diwujudkan secara efektif.
HNW juga menekankan dimensi kepedulian dalam kepemimpinan. Mengutip hadis, ia menyatakan bahwa pemimpin harus berorientasi pada kepedulian; bukan sekadar memerintah, tetapi juga siap “menerima perintah”—maksudnya menerima aspirasi rakyat. “Pemerintah artinya siap diperintah/menerima aspirasi rakyatnya,” katanya.
Lebih jauh, HNW menegaskan bahwa nilai-nilai ke-Islaman tidak bertentangan dengan nilai ke-Indonesiaan dan bahkan terkandung dalam Pancasila. “Karena itu penting menegakkan kembali kepemimpinan profetik yang menjadi ciri khas kepemimpinan Islam yang tetap relevan untuk kepemimpinan pemuda di era Gen Z,” ujarnya.
Sebagai alasan optimis terhadap masa depan, HNW mengingatkan kaidah sejarah: untuk memproyeksikan 20 tahun ke depan, lihat 20 tahun sebelumnya. Ia mencontohkan perjalanan menuju kemerdekaan 1945 yang ditopang gerakan sejak 1924 (Perhimpunan Indonesia) dan Sumpah Pemuda 1928. “Kalau mahasiswa serius melakukan latihan kepemimpinan, maka kita sedang menanam benih keunggulan untuk Indonesia Emas 2045,” tuturnya. Dengan menanam “benih pola kepemimpinan profetik” mulai sekarang—sebut HNW, tahun 2025—ia optimistis bangsa akan memanen “buah madani” pada 2045.
Pertemuan ditutup dengan harapan agar generasi muda, khususnya mahasiswa, menjaga komitmen menanam nilai-nilai madani dan kepemimpinan profetik sebagai kontribusi nyata untuk mewujudkan Indonesia yang kuat dan berkemajuan pada abad ke-100 kemerdekaan.










