Menerima Pimpinan BEM, HNW : Penting Menegakkan Kepemimpinan Profetik dan Nilai-Nilai Madani Menyongsong Indonesia Emas 2045

Wakil Ketua MPR Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA/Ist.

Wakil Ketua MPR Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA, menerima delegasi BEM Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif HidayatuLlah, dan BEM Fakultas Ilmu Agama, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Ruang Kerja, Gedung Nusantara III Lantai 9, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa petang (16/12/2025).

Dalam pertemuan ini, Hidayat Nur Wahid mengapresiasi para mahasiswa yang aktif dalam organisasi dan menegaskan pentingnya para mahasiswa juga untuk menegakkan kepemimpinan profetik dan kepemimpinan dengan nilai-nilai madani untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Delegasi BEM antara lain Syaputra Panduwardana dan sembilan pengurus lainnya, beraudiensi terkait dengan rencana kegiatan Latihan Kepempimpinan Mahasiswa pada 25 Desember 2025 ini. Mereka mengundang Hidayat Nur Wahid sebagai pembicara kunci dalam Latihan Kepemimpinan Mahasiswa itu.

Dalam audiensi itu, Hidayat Nur Wahid atau HNW, mengingatkan bahwa sebagai mahasiswa Islam maka kepemimpinan hendaknya tetap profetik dan tidak dilepaskan dari basis ke-Islaman. Kepemimpinan Rasulullah SAW tetap relevan dan sangat bisa menjadi rujukan dari sisi keteladanan, visi misi, dan nilai-nilai, serta efektifitas dan bukti keberhasilan sebagai pemimpin.

Rasulullah adalah teladan pemimpin visioner yang mengarahkan hadirnya masyarakat utama berkemajuan/khairu ummah. Jika kepempimpinan mengharuskan tanggungjawab mensejahterakan umat dan bangsa, maka Rasulullah telah memberi teladan tentang tanggungjawab dan keberhasilan mensejahterakan umat dan “negara” yg beliau Pimpin.

Menurut HNW, dalam konteks kepemimpinan, dalam bahasa hadisnya Rasulullah, pemimpin adalah juga berorientasi pada kepedulian. Dalam relasi pemimpin dan rakyat, pemimpin bukanlah sekedar pemerintah atau penguasa, melainkan berorientasi pada kepedulian. Kalau pemimpin peduli maka orientasinya tidak hanya memerintah bahkan siap menerima perintah. Pemerintah artinya siap diperintah/menerima aspirasi rakyatnya.

HNW berharap mahasiswa Islam yang belajar kepemimpinan agar tidak menghilangkan nilai-nilai seperti itu. Nilai-nilai ke-Islaman itu tidak bertentangan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Bahkan nilai-nilai itupun terkandung dalam Pancasila. “Karena itu penting menegakkan kembali kepemimpinan profetik yang menjadi ciri khas kepempimpinan Islam yang tetap relevan untuk kepemimpinan pemuda di era Gen Z,” ujarnya.

Kepemimpinan seperti itu tampak pada kepemimpinan dalam konteks masyarakat madani atau masyarakat Madinah pada masa Rasulullah. Dengan demikian, kata HNW, apabila orientasi kita adalah kepemimpinan yang profetik, kepemimpinan madani, maka akan tumbuh pohon dan buah madani.

“Maka kita bisa membayangkan terwujudnya Indonesia Emas pada tahun 2045. Ketika kita dari sekarang (tahun 2024) menanam benih pohon pola kepemimpinan profetik dengan nilai-nilai madani, maka pada tahun 2045 insya Allah kita akan memanen buah madani,” tuturnya.

HNW juga mengingatkan kaidah sejarah bahwa untuk melihat 20 tahun yang akan datang maka bisa dilihat dari 20 tahun sebelumnya. Indonesia merdeka pada tahun 1945 merupakan hasil dari 20 tahun sebelumnya. Pada tahun 1924 sudah berdiri Perhimpunan Indonesia di Belanda, kemudian Sumpah Pemuda tahun 1928. Mereka menjadi tokoh di BUPK, PPKI, atau Panitia Sembilan.

“Begitu juga, saat ini. Kalau mahasiswa serius melakukan latihan kepemimpinan, maka kita sedang menanam benih keunggulan untuk Indonesia Emas 2045, kata dia.

“Jika mulai saat ini kita menanam tanaman madani, maka itulah yang akan tumbuh kembang, dan 20 tahun yang akan datang bangsa Indonesia akan memanen Indonesia Emas, bukan Indonesia yg cemas atau Indonesia lemas. Itu semua penting menjadi komitmen semua anak bangsa yang serius mendambakan terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tambah HNW.