Rupiah Melemah dan Geopolitik Memanas, DPR Ingatkan Risiko Kenaikan Harga Obat

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher/Ist.

JAKARTA — Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, meminta pemerintah menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat tetap terjaga di tengah potensi kenaikan harga akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian geopolitik global.

Menurut Netty, masyarakat yang bergantung pada konsumsi obat rutin tidak boleh menjadi pihak yang paling terdampak akibat gejolak ekonomi maupun konflik global.

“Yang harus menjadi perhatian utama adalah jangan sampai masyarakat, terutama pasien yang bergantung pada obat rutin, menjadi pihak yang paling terdampak akibat gejolak ekonomi dan konflik global,” kata Netty dalam keterangannya, Rabu (3/6).

Pernyataan itu disampaikan menyusul informasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengenai potensi kenaikan harga obat akibat masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku farmasi impor.

Netty menilai kondisi tersebut menunjukkan ketahanan farmasi nasional masih menghadapi tantangan besar. Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat sistem kesehatan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan gangguan rantai pasok global.

“Kita perlu menjadikan situasi ini sebagai alarm untuk mempercepat kemandirian farmasi nasional. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap bahan baku impor membuat sistem kesehatan kita rentan terhadap fluktuasi nilai tukar maupun gangguan rantai pasok global,” ujarnya.

Ia mengapresiasi langkah BPOM dan pemerintah yang telah menyiapkan sejumlah strategi mitigasi, mulai dari diversifikasi pemasok bahan baku, optimalisasi produksi dalam negeri, hingga penguatan pengawasan dan percepatan akses obat.

Meski demikian, Netty menegaskan seluruh kebijakan tersebut harus berorientasi pada perlindungan masyarakat sebagai pengguna layanan kesehatan.

“Pasien hipertensi, diabetes, jantung, kanker, maupun penyakit kronis lainnya membutuhkan obat setiap hari. Karena itu, stabilitas harga dan ketersediaan obat harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Netty juga mendorong pemerintah memperkuat produksi bahan baku obat dalam negeri melalui dukungan riset, pemberian insentif bagi industri, serta penguatan kolaborasi lintas kementerian.

“Ketahanan kesehatan tidak cukup hanya dengan memiliki rumah sakit dan tenaga kesehatan yang baik. Kita juga harus memiliki kemandirian dalam penyediaan obat-obatan strategis agar tidak mudah terguncang oleh dinamika global,” katanya.

Selain memperkuat produksi, Netty meminta pemerintah melakukan pemantauan berkala terhadap harga obat di lapangan guna mencegah lonjakan harga yang membebani masyarakat.

“Pemerintah perlu memastikan setiap penyesuaian harga dilakukan secara terukur dan proporsional. Jangan sampai akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial menjadi terganggu,” ujarnya.

Netty menegaskan kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang wajib dilindungi negara. Karena itu, pemerintah harus memastikan masyarakat tetap memperoleh obat yang aman, tersedia, dan terjangkau.

“Dalam situasi apa pun, negara harus hadir memastikan masyarakat tetap mendapatkan obat yang aman, tersedia, dan terjangkau. Jangan sampai kondisi global mengurangi hak rakyat untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak,” tuturnya.