Sentil BEM Nusantara, Wamentan Sudaryono: Silakan Pragmatis Cari Kerja, Tapi Jangan Jadi Sarjana Kedaluwarsa!

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono/IG

Semarang, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memberikan pesan menohok sekaligus membakar semangat ratusan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Nusantara Young Leaders di Semarang. Dalam ruang diskusi yang riuh oleh tepuk tangan, Sudaryono mengingatkan bahwa bangku perkuliahan adalah sebuah privilese mahal yang hanya bisa ditatap dengan ludah tertelan oleh jutaan rakyat Indonesia lainnya.

Wamentan berbicara secara blak-blakan. Ia sama sekali tidak menampik realitas bahwa generasi muda—termasuk para aktivis kampus—kerap berbenturan dengan pragmatisme hidup. Keinginan untuk segera lulus, mendapat pekerjaan bergaji besar, dan membanggakan orang tua adalah insting bertahan hidup yang tak perlu dimunafikkan.

“Pragmatisme? Tentu ada. Lulus cepat, cari kerja, kantong terisi penuh, orang tua bangga tersenyum. Semua orang butuh bertahan hidup. Tidak usah munafik,” ujar Sudaryono menatap tajam wajah-wajah muda di hadapannya.

Haram Bertindak Biasa-Biasa Saja: Bayar Lunas Privilese!

Meski memaklumi tuntutan perut dan masa depan, Sudaryono menuntut para mahasiswa untuk mengingat amanah besar di pundak mereka. Dengan kecerdasan, kesehatan jasmani, dan posisi mumpuni yang dianugerahkan Tuhan, ia mengharamkan mahasiswa bertindak biasa-biasa saja.

Sebagai bentuk keteladanan, Wamentan membeberkan prinsipnya yang pantang berdiam diri di akhir pekan. Waktu libur justru digunakannya untuk turun gunung, menyisir berbagai daerah demi merangkul kawan-kawan petani, pedagang pasar, dan kaum marginal.

“Kita wajib bayar lunas privilese kita. Bikin Indonesia maju melesat jauh,” tegasnya menggelegar.

Tantangan Generasi Terpintar: Berdiri Tegak dan Tetap Waras

Di akhir arahannya, Sudaryono meminta para calon pemimpin bangsa ini untuk tidak ciut nyali saat realitas pembangunan bangsa menekan pundak mereka. Ia memberikan peringatan keras agar ilmu dan titel yang diraih susah payah tidak berakhir sia-sia hanya untuk kepentingan perut sendiri.

“Jangan merasa kecil saat pundakmu memikul beban super berat. Berdiri tegak, tatap tajam ke depan. Jangan sampai gelar sarjanamu kedaluwarsa sebelum terpakai membangun negeri ini,” tantang Sudaryono.

Sebagai penutup, ia mengajak barisan mahasiswa yang diyakininya sebagai generasi terpintar republik ini untuk menjaga kewarasan di tengah karut-marut tantangan zaman.

“Di tengah pragmatisme hidup kita, mari kita sama-sama sebagai generasi terpintar republik ini, kita tetap stay waras dan mencintai bangsa ini apa adanya,” pungkas Sudaryono.