Sentil Disparitas Mutu Sekolah Negeri vs Swasta, MPR RI Desak Upgrade Kualitas Guru

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya inklusivitas dan perluasan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas dalam pembangunan nasional/MPR RI

Jakarta, Generasi.co — Jurang pemisah (disparitas) mutu pendidikan antara sekolah berstatus negeri dan swasta di Indonesia masih menganga lebar. Merespons keprihatinan tersebut, Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mendesak pemerintah untuk segera melakukan intervensi melalui peningkatan kompetensi guru dan perombakan manajemen sekolah.

Pernyataan ini ditegaskan oleh Lestari melalui keterangan tertulisnya pada Kamis (19/2/2026). Ia menilai pemerataan kualitas pendidikan tidak boleh hanya sekadar wacana, melainkan harus dieksekusi secara konsisten.

“Disparitas mutu pendidikan antara sekolah negeri dan swasta di Indonesia masih cukup lebar. Berbagai upaya untuk peningkatan kualitas pendidikan yang lebih merata harus konsisten dilakukan,” tegas politisi yang akrab disapa Rerie tersebut.

Paradoks Sekolah Swasta: Jumlah Melimpah, Peminat Rendah

Ketimpangan kualitas ini tercermin jelas dari data statistik nasional. Merujuk pada laporan Badan Pusat Statistik (BPS) periode ajaran 2024/2025, Indonesia sebenarnya mengalami surplus jumlah institusi pendidikan swasta, namun ironisnya sepi peminat.

Berikut adalah potret paradoks pendidikan menengah atas di Tanah Air:

  • Dominasi Jumlah Institusi: Terdapat 7.562 unit SMA swasta yang tersebar di seluruh Indonesia. Angka ini mendominasi sebesar 51,53% dari total keseluruhan SMA yang ada.
  • Minimnya Serapan Siswa: Meski jumlah sekolahnya lebih banyak, daya serap siswanya justru berbanding terbalik. BPS mencatat 73,79% siswa SMA lebih memilih menempuh pendidikan di sekolah negeri.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai daya tarik sekolah swasta. Menurut Rerie, ada sejumlah faktor fundamental yang membuat orang tua ragu menyekolahkan anaknya ke institusi swasta. Beberapa di antaranya meliputi beban biaya (faktor ekonomi), ketimpangan kualitas pengajaran, keterbatasan akses, hingga perbedaan nilai-nilai pendidikan yang ditawarkan.

Fokus Solusi: Upgrade Guru dan Manajemen Sekolah

Merespons akar permasalahan tersebut, Rerie yang juga duduk sebagai Anggota Komisi X DPR RI ini menawarkan dua solusi konkret yang harus segera direalisasikan oleh pemangku kebijakan:

  1. Peningkatan Kompetensi Tenaga Pendidik: Kualitas guru tidak boleh stagnan. Pembaruan keterampilan dan kompetensi guru secara berkala harus menjadi fokus utama pemerintah untuk memastikan standar pengajaran di sekolah swasta bisa bersaing dengan sekolah negeri.
  2. Perbaikan Tata Kelola (Manajemen) Sekolah: Perombakan manajemen pengelolaan institusi pendidikan sangat esensial. Tata kelola yang profesional akan mempermudah masyarakat dari berbagai kalangan untuk mengakses layanan pendidikan yang berkualitas tinggi.

Sebagai penutup, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini menyerukan kolaborasi lintas sektoral. Rerie berharap langkah-langkah pemerataan pendidikan ini mendapat sokongan penuh dari seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat luas.

“Langkah nyata ini harus segera direalisasikan demi terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) nasional yang berdaya saing tinggi di masa depan,” pungkasnya.