Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyoroti ironi dalam industri kakao nasional. Ia menyayangkan fenomena masyarakat yang kerap merasa bangga mengonsumsi cokelat merek asing berharga mahal, padahal bahan baku utamanya berasal dari petani Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Rabu (4/2). Ia menilai pola perdagangan saat ini masih merugikan Indonesia karena lebih banyak mengekspor bahan mentah.
“Seringkali kita merasa bangga saat memegang cokelat merek luar negeri yang harganya selangit. Padahal kalau ditelusuri, bahan baku utamanya banyak yang berasal dari tanah air kita sendiri,” ujar Sudaryono.
Ironi: Kita Menanam, Asing Menikmati
Politikus Partai Gerindra ini menyebut kondisi saat ini cukup memprihatinkan. Indonesia sibuk mengirim biji kakao mentah dengan harga murah ke pasar Eropa. Di sana, bahan tersebut diolah dan dikemas, lalu dijual kembali ke Indonesia dengan harga berlipat ganda.
“Kita yang berkeringat menanam, orang lain yang menikmati keuntungan. Pola dagang seperti ini yang membuat petani kita sulit naik kelas,” tegasnya.
Padahal, menurut Sudaryono, permintaan pasar global terhadap kakao Indonesia sedang tinggi-tingginya. Ia mencatat, pada tahun 2024 nilai ekspor kakao Indonesia melonjak drastis hingga menembus angka US$ 2,6 miliar.
Angka tersebut membuktikan bahwa kualitas hasil perkebunan Indonesia sangat kompetitif dan menjadi rebutan negara-negara maju yang paham betul potensi keuntungan dari industri pengolahan cokelat.
Hilirisasi Adalah Keharusan
Menyikapi hal itu, Sudaryono menegaskan bahwa program hilirisasi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto bukan lagi sebuah opsi, melainkan keharusan mutlak.
Ia mendorong agar pengolahan kakao dilakukan sepenuhnya di dalam negeri untuk menciptakan produk jadi yang bernilai tambah (value added).
“Kita harus berani mengolah kakao di dalam negeri, menciptakan produk jadi yang bernilai tambah, dan memutar roda ekonomi di rumah sendiri,” katanya.
Ia meyakini, jika pengolahan dilakukan secara maksimal di dalam negeri, perputaran uang akan dirasakan langsung oleh rakyat, membuka lapangan pekerjaan, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani.
“Waktunya cokelat Indonesia disegani di pasar global,” pungkas Sudaryono.










