Jakarta, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono, menepis keras narasi pesimistis yang menyebut kas negara terkuras habis gara-gara membiayai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa kondisi keuangan negara saat ini sangat tangguh dan justru melimpah berkat efisiensi anggaran.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Sudaryono melalui akun Instagram pribadinya, tak lama setelah dirinya bersilaturahmi dengan Kiai Sodiq di Pondok Pesantren (Ponpes) Assodiqiyah. Ia mengaku terinspirasi dari petuah sang kiai yang lugas dan ceplas-ceplos.
“Di luar sana, berseliweran kabar kas negara habis buat program Makan Bergizi Gratis. Keliru besar. Dana kita melimpah. Kita potong habis pengeluaran tanpa guna,” tegas Sudaryono dalam unggahannya.
Efisiensi Anggaran: Subsidi Pupuk 100 Persen hingga BBM Termurah
Wamentan membeberkan bahwa pemerintah telah melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap pengeluaran yang dianggap tidak memiliki multiplier effect bagi masyarakat. Dari langkah berani tersebut, dana segar sebesar Rp300 triliun berhasil diamankan ke dalam “brankas” khusus untuk mengeksekusi program MBG.
Meski telah mengalokasikan ratusan triliun untuk program unggulan tersebut, Sudaryono memastikan bahwa sisa anggaran negara tetap tebal dan mampu membiayai sektor-sektor vital lainnya. Beberapa capaian konkret dari kekuatan fiskal tersebut antara lain:
- Sektor Pertanian: Alokasi subsidi pupuk bagi petani berhasil direalisasikan hingga tembus 100 persen.
- Pendidikan: Pemerintah terus mengebut pembangunan dan perbaikan puluhan ribu infrastruktur sekolah.
- Ketahanan Energi: Di tengah guncangan krisis global, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia berhasil dipertahankan sebagai yang termurah di kawasan ASEAN.
Kritis Boleh, Curiga Jangan!
Menutup pernyataannya, tokoh muda ini tidak melarang masyarakat untuk bersikap kritis atau berbeda pandangan dengan pemerintah. Namun, ia mengingatkan agar kritik tersebut harus dilandasi dengan objektivitas, bukan sekadar narasi pesimis yang tak berdasar.
“Abaikan narasi pesimis. Silakan bersikap kritis pada pemerintah. Boleh tidak sepaham. Tapi pastikan, penolakanmu tumbuh atas dasar kesetiaan pada nusa dan bangsa. Merah putih butuh karya, bukan rasa curiga,” pungkas Sudaryono.










