Jakarta, Generasi.co — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membuktikan kapasitasnya sebagai mesin pencetak laba raksasa. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, laba bersih bank yang dinakhodai oleh Direktur Utama Hery Gunardi ini melonjak fantastis, dari Rp25,4 triliun pada 2015 menjadi Rp57,13 triliun pada penutupan 2025.
Tidak ingin hanya bergantung pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), manajemen BRI kini tancap gas mengeksekusi strategi transformasi bertajuk Brivolution Reignite.
Langkah taktis ini membidik sumber pendapatan baru yang lebih kuat dan berimbang melalui penguatan dana murah (CASA), penetrasi segmen konsumer (KPR, payroll loan, kredit kendaraan), hingga optimalisasi value chain di segmen komersial dan korporasi.
Pengamat Perbankan, Moch Amin Nurdin, menilai basis nasabah ritel BRI yang masif merupakan modal kuat untuk menghidupkan mesin pertumbuhan baru tersebut.
“Dengan kombinasi tersebut, mesin baru ini berpotensi menjadi sumber pertumbuhan jangka menengah dan panjang, bukan sekadar ekspansi jangka pendek. Ini merupakan bagian strategi yang sangat baik dalam mendorong pertumbuhan pendapatan Bank BRI,” ujar Amin kepada media.
Kilau Bisnis Emas dan Gebrakan ‘Bullion Bank’
Salah satu lini bisnis non-konvensional yang kini digenjot habis-habisan oleh BRI adalah pengelolaan emas melalui entitas anaknya, PT Pegadaian. Melalui payung Holding Ultra Mikro (UMi), penetrasi bisnis emas BRI mencatatkan rekor impresif.
Hingga Oktober 2025, jumlah emas yang berhasil dihimpun oleh Pegadaian mencapai 129 ton. Ekosistem ini diyakini akan semakin mendatangkan cuan seiring turunnya mandat izin bullion bank (bank emas) kepada Pegadaian, yang membuka babak baru pengelolaan emas dari hulu ke hilir di Indonesia.
“Permintaan emas yang tinggi dan cenderung defensif sebagai instrumen investasi. Kemudian penguatan ekosistem nasional bullion dari hulu hingga hilir dan integrasi dengan Pegadaian dan kanal digital yang memperluas akses nasabah,” tukas Amin.
Kehadiran bullion bank dengan model bisnis komprehensif—mulai dari tabungan, pembiayaan, hingga perdagangan emas—diproyeksikan akan menjadi keran fee based income dan likuiditas alternatif yang masif bagi BRI.
Sokongan Anak Usaha Makin ‘Gacor’
Selain Pegadaian, 9 anak usaha BRI lainnya (seperti PNM, BRI Life, Bank Raya, hingga BRI Danareksa Sekuritas) juga menunjukkan performa luar biasa dalam menopang laba konsolidasi induk. Sepanjang 2025, anak-anak usaha ini terbukti bukan sekadar pelengkap ekosistem, melainkan tulang punggung profitabilitas.
Berikut adalah catatan performa 10 anak usaha BRI pada 2025:
- Laba Bersih: Tumbuh 16,1% menjadi Rp10,37 triliun.
- Kontribusi Laba ke Induk: Melonjak menjadi 19,4% (naik dari 14,7% atau Rp8,93 triliun pada 2024).
- Total Aset: Meroket 23,4% menjadi Rp267 triliun (naik dari Rp215,5 triliun pada 2024).
Diverifikasi sumber pendapatan dari anak usaha ini menjadi katalisator penguat fundamental BBRI di mata investor. Ditambah lagi, kepastian manajemen membagikan dividen jumbo sebesar 92% dari perolehan laba bersih semakin menegaskan posisi BRI sebagai saham defensif yang paling royal memanjakan pemegang sahamnya di tahun 2026.










