Perlukah Mematikan Lampu Setiap Kali Meninggalkan Ruangan?

Foto Ilustrasi: Lampu di Rumah (ShutterStock)
Foto Ilustrasi: Lampu di Rumah (ShutterStock)

Mematikan lampu saat meninggalkan ruangan bisa hemat energi, tapi tidak selalu perlu dilakukan. Ketahui jenis bohlam yang Anda gunakan sebelum mengambil keputusan.

Generasi.co, Jakarta – Sebagian besar dari kita tentu pernah mendengar anjuran untuk mematikan lampu saat meninggalkan ruangan dengan alasan menghemat tagihan listrik.

Anggapan umum menyebut bahwa semakin lama lampu menyala, semakin besar pula konsumsi listrik, yang berdampak pada membengkaknya tagihan bulanan.

Namun, seiring berkembangnya teknologi dan hadirnya berbagai jenis bohlam modern, anjuran tersebut tidak selalu relevan.

Bahkan, pada beberapa kondisi, mematikan lampu justru bisa memperpendek usia pakai bohlam dan tidak signifikan menghemat biaya.

Lalu, kapan sebenarnya kita perlu mematikan lampu?

Dan jenis bohlam mana yang sebaiknya dimatikan saat tidak digunakan?

Yuk simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Pengaruh Frekuensi Menyalakan dan Mematikan Lampu

Dikutip dari laman Real Simple, berdasarkan data dari Department of Energy (DOE) Amerika Serikat, setiap jenis bohlam memiliki masa pakai tertentu yang bisa terpengaruh oleh seberapa sering lampu tersebut dinyalakan dan dimatikan.

Semakin sering lampu dinyalakan dan dimatikan, masa pakai bohlam bisa lebih pendek, terutama pada jenis tertentu.

Maka dari itu, alih-alih berfokus pada berapa lama lampu menyala, kita sebaiknya mempertimbangkan frekuensi penggunaannya.

Mematikan Lampu Bisa Hemat, Tapi Tidak Selalu

Secara umum, mematikan lampu ketika tidak digunakan memang bisa menghemat listrik.

Namun, besarnya penghematan bergantung pada jenis bohlam dan tarif listrik yang berlaku.

Bahkan, dalam beberapa kasus, biaya untuk mengganti bohlam yang cepat rusak bisa lebih besar dibanding penghematan listrik yang didapat.

DOE: Pertimbangkan Durasi dan Jenis Bohlam

Menurut DOE, keputusan untuk mematikan lampu sangat bergantung pada durasi kita meninggalkan ruangan dan jenis lampu yang digunakan.

Aturan sederhananya:

  • Jika hanya meninggalkan ruangan kurang dari 15 menit, lebih baik biarkan lampu menyala.
  • Jika lebih dari 15 menit, matikan lampu untuk menghemat energi.

Namun, keputusan ini tetap harus disesuaikan dengan jenis bohlam yang digunakan. Berikut penjelasan rinci tentang masing-masing jenis bohlam:

Jenis-Jenis Bohlam dan Saran Penggunaannya

1. Lampu Pijar

Lampu pijar merupakan jenis bohlam paling boros energi.

Teknologi lama yang digunakan membuatnya cepat panas dan kurang efisien.

Sebaiknya selalu dimatikan saat tidak digunakan.

2. Bohlam Halogen

Meskipun sedikit lebih efisien daripada lampu pijar, bohlam halogen masih menggunakan prinsip kerja yang serupa.

Konsumsinya tetap tinggi dibandingkan jenis lampu modern.

Disarankan untuk dimatikan saat ruangan kosong.

3. Bohlam CFL (Compact Fluorescent Lamp)

Lampu CFL dikenal hemat energi, tetapi umur pakainya bisa berkurang jika terlalu sering dinyalakan dan dimatikan.

Jika meninggalkan ruangan kurang dari 15 menit, biarkan tetap menyala.

4. Bohlam LED (Light Emitting Diode)

Lampu LED merupakan pilihan paling efisien saat ini.

Konsumsi listriknya rendah, dan umur pakainya tidak banyak terpengaruh oleh seberapa sering dinyalakan atau dimatikan.

Tidak masalah jika sering dinyalakan dan dimatikan.

Namun, membiarkannya menyala dalam waktu lama juga tidak berdampak besar pada tagihan listrik.

Jadi, Matikan atau Biarkan Menyala?

Mematikan lampu saat meninggalkan ruangan memang bisa menghemat energi, tetapi bukan tindakan yang selalu diperlukan.

Pertimbangkan dulu durasi ketidakhadiran Anda di ruangan serta jenis bohlam yang digunakan.

Sebagai panduan praktis:

  • Gunakan lampu LED untuk efisiensi maksimal dan fleksibilitas.
  • Matikan lampu pijar dan halogen segera setelah selesai digunakan.
  • Pertimbangkan waktu sebelum mematikan bohlam CFL agar tidak memperpendek usia pakainya.

Mengelola energi di rumah bukan hanya soal hemat biaya, tetapi juga langkah kecil menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

(BAS/Red)